DPW DKI Jakarta dan Depok

Beri Sambutan Mukernas Wahdah Islamiyah, Wamenag Pesankan Hal Ini

Sambutan Wamenag Dalam Acara Mukernas Wahdah Islamiyah ke XIII
0 125

Jakarta – Wakil Menteri Agama RI Dr. KH. Zainut Tauhid Sa’adi membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) XIII  Wahdah Islamiyah secara daring, Jum’at (25/12). Musyawarah tahunan yang sedianya dihelat selama tiga hari dari 25-27 Desember 2020 ini melibatkan seluruh pengurus pusat, unsur pimpinan wilayah dari 34 provinsi, dan 207 pimpinan daerah dari seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya di hadapan lebih dari seribu peserta Mukernas Wahdah Islamiyah yang tergabung di dua ruang virtual tersebut, Kyai Zainut Tauhid mengingatkan tentang besarnya tanggung jawab umat Islam terhadap NKRI.

“Kita menyadari umat Islam merupakan bagian terbesar dari penduduk negeri ini, tentu mempunyai tanggung jawab yang besar pula dalam merawat, mempertahankan, menjaga, dan juga memajukan negara dan bangsa kita,” ungkapnya.

Selain itu menurut beliau  berdirinya NKRI tidak lain berkat perjuangan panjang para ulama dan umat Islam lintas generasi.

“Perjuangan tersebut dilakukan demi mengikhtiarkan berdirinya negara yang ‘baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur’, dijamin terpeliharanya keluhuran nilai-nilai agama serta kesejahteraan umat manusia,” imbuhnya.

Kyai Zainut juga sedikit mengingatkan tentang sejarah berdirinya negara ini yang tidak lepas dari adanya kesepakatan bersama antar komponen bangsa. Kesepakatan yang beliau sebut sebagai “al mitsaq al wathaniy” atau “al mu’ahadah al jama’iyyah” yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 45 ini perlu terus dijaga dan diteguhkan.

Beliau menjelaskan, “Oleh karena itu penting bagi kita untuk terus meneguhkan sikap menghormati dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip berbangsa dan bernegara yang telah menjadi kesepakatan kita bersama. Pancasila sebagai dasar negara, UUD 45 sebagai konstitusi, dan peraturan perundang-undangan lainnya.”

Umat Islam memahami bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang komprehensip, kaffah, syumuliyah, dan mutakamil. Umat Islam siap menerima prinsip-prinsip kebangsaan tersebut sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat.

Selanjutnya Wamenag mengingatkan tentang kemajemukan umat dan bangsa ini. Kemajemukan bangsa berupa keragaman tradisi dari suku, ras, dan agama. Lebih khusus lagi, kemajemukan itu juga terdapat dalam tubuh umat Islam.

Karena itu, umat Islam perlu merawat keragaman tersebut agar umat dan bangsa ini tetap utuh dan tercapainya cita-cita berupa “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur”.

“Oleh karena itu penting bagi umat Islam untuk senantiasa dengan penuh kesadaran menjaga hubungan persaudaraan yang rukun antar sesama umat Islam, ukhuwwah Islamiyyah. Untuk menuju ‘tauhidul ummah’ (persatuan umat). Perlu diingat, kita juga berdampingan dengan umat agama lain, kita dituntun untuk membangun persaudaraan antar sesama anak bangsa, ukhuwah wathaniyah. Jangan sampai perbedaan yang ada itu menimbulkan perpecahan,” pesannya.

Menurutnya saat ini umat islam masih disibukkan dengan perbedaan furu’iyah dan tidak fundamental. Perlu upaya menggalang persatuan agar umat Islam yang besar ini mampu menjalankan peran kenegaraan dan kebangsaan secara proporsional.

“Agar umat Islam dapat mengambil peran-peran kenegaraan dan kebangsaan, serta lebih fokus untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam rangka mendirikan negara dan bangsa yang dapat memelihara nilai-nilai keluhuran agama dan juga untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia. Jangan sampai kita ini jumlahnya besar tapi peran kita kecil,” pesan beliau.

Kyai asal Jepara yang sebelunya diamanahi sebagai Wakil Ketua MUI Pusat ini berharap Mukernas Wahdah Islamiyah XIII dapat melahirkan program-program kerja yang bermanfaat bagi kepentingan umat, bangsa, dan negara.

[Murtadha Ibawi]

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: