DPW DKI Jakarta dan Depok

Satgas Covid 19 MUI Pertanyakan Kebijakan New Normal, Apakah Kita Siap?

46

(Jakarta) Wahdahjakarta.com-, Ketua Satuan Tugas Covid-19 Majelis Ulama Indonesia (Satgas Covid-19 MUI) Ustadz Muhammad Zaitun mempertanyakan rencana kebijakan new normal yang diterbitkan pemerintah dalam hal pengendalian wabah Covid-19.

“Apakah kita siap? Para ahli sudah menjawab. Sebenarnya agak aneh wacana new normal disampaikan dan begitu cepat dipraktekkan. Kalau dia dibuat sosialisasi mungkin sebulan atau sebulan ke depan, tapi ini tidak ada indikator yang bisa digunakan kecuali secara sepintas. Yang kita dapat info di beberapa wilayah ada penurunan dari sisi terpapar maupun dari sisi yang meninggal. Tapi secara nasional, itu belum terjadi,” kata  Ustadz Zaitun dalam Silaturahim Online dengan media, Rabu (27/5/20).

Data pekan lalu saja, kata dia, ada hari dimana terjadi peningkatan korban postif Covid-19 sampai lebih dari 900 orang. Saat ini balik lagi kepada angka yang biasa sebelumnya yakni sekitar 400-an setiap hari. Kemudian dari sisi rasio, sekarang sudah ada yang turun tapi belum pada titik kurva yang bisa dikatakan melandai, malah secara nasional grafik masih menaik. Belum titik puncak, kemudian rata lalu turun untuk kemudian bisa dianggap normal.

Menurut Wasekjen MUI ini, new normal memang tidak harus sama keadaannya dengan sebelum Covid-19. Tapi setidak-tidaknya kurvanya itu sudah rata di atas daripada kondisi normal biasa, makanya disebut new normal. New normal ditandai dengan masih harus pakai masker, menjaga jarak dan mengurangi kerumunan. Misalnya nanti kapasitas toko, restoran maksimal 50 persen dari kapasitas biasanya untuk menjalankan konsep new normal.

“Apakah itu mudah, kita lihat saja nanti. Ini tantangan bagi kita. Apa tantangannya? Kalau memang kebijakan ini tepat, apalagi sudah ada langkah-langkah yang bisa memicu masyarakat untuk lebih cepat lagi bergerak walaupun diwanti-wanti ada polisi, ada tentara yang menjaga. Kalau ini ternyata tidak tepat, maka ini beresiko bagi masyarakat. Apalagi, dalam sejarah kita mengenal adanya gelombang pertama, kedua, dan ketiga serangan wabah,” terang Ketua Umum Wahdah Islamiyah  itu.

Oleh karena itu, Kyai Zaitun mengajak praktisi media untuk menyikapi hal itu, misalnya dengan mengingatkan pengambil kebijakan untuk berpikir kembali dan mengkaji ulang kebijakan. Menurutnya, jika media bisa melakukan, maka hal itu bisa menjadi bahan pertimbangan.

“Sehingga kita tidak terjatuh pada hal yang tidak kita inginkan. Seperti kata ahli, jangan sampai malah mengarah jadi bunuh diri massal. Terutama kalau melihat tingkat kedisiplinan masih sangat jauh di beberapa wilayah di Indonesia,” pungkasnya. []

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: