DPW DKI Jakarta dan Depok

Sebab-Sebab Lemahnya Iman

0 367

Berbicara tentang islam, tentu semua kita termasuk para muslim yang sama-sama in syaa Allah diberkahi dan dinanti-nanti oleh Rasulullah di pintu surga nantinya, yang bersaksi bahwa tidak ada illah yang patut disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, dan Rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasul (utusan) yang dianugerahkan Allah kepada kita semuanya.

Tapi, apakah semua kita beriman? dan apakah iman kita tersebut sudah bisa disebut iman yang masuk kriteria yang ditentukan Allah? jawabannya, wallahu a’lam bishawab, karena kita ga tau isi hati kita, kita tidak tahu apa yang dibaca oleh Allah dalam hati kita. Karena cuma Allah-lah yang bisa baca isi hati kita. Manusia itu kodratnya buta, buta dalam hal memperhatikan apa yang memang disuratkan Allah bahwa ia tak mampu melihatnya, seperti hal-hal yang ghaib, maupun isi hati. Memang manusia adalah sebaik-baik bentuk dan makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sampai malaikat saja diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada nenek moyang kita, yakni Nabi Adam ‘alaihissalam, tapi bukan berarti kita merupakan makhluk yang sempurna, kita jauh sekali dari kata itu. Karena kita ditakdirkan tidak luput dari khilaf dan lupa.

Baca Juga: Fluktuasi Keimanan 

Seperti halnya dalam sebuah perjalanan yang pasti ada aja hambatan yang harus perbaiki dulu , begitupun saat kita sedang dalam masa perbaikan iman, misalya dalam proses hijrah, kadang ada yang menjanggal kita dalam proses tersebut, apa saja itu?

  1. Kurang Ikhlas

Allah berfirman :

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Ayat ini menerangkan seterang-terangnya bahwa ketika kita menyatakan bahwa kita merupakan hamba Allah yang beriman, maka kita harus menyempurnakan niat kita terlebih dahulu untuk memiliki harta berharga yang disebut iman tersebut, karena iman tidak akan datanng atau tidak akan kita peroleh kalau kita beriman bukan untuk Allah subhanahu wa ta’ala, padahal jelas kalau iman yang pertama adalah menyempurnakan tauhid kita kepada Allah, Sang Pemilik jiwa dan raga kita. keikhlasan yang dimaksud disini adalah menyempurnakan tauhid itu tadi dalam menjalankan syariat yang telah ditetapkan Allah subahahu wa ta’ala.

Lalu Allah langsung menyinggung soal shalat pada ayat ini, artinya ketika kita masih ada keterpaksaan dalam mendirikan shalat, atau menganggap shalat itu hanya sebatas rutinitas, bukan prioritas, maka ini juga tergolong tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beribadah kepada Alla azza wa jalla. Lalu setelah shalat, Allah menyinggung lagi masalah zakat, tentunya juga termasuk infaq & sedekah. Hal ini juga pasti memerlukan keikhlasan dalam melakukannya, tanpa keikhlasan, semua yang sudah kita berikan di jalan Allah itu adalah sia-sia, dan apabila ada sedikit saja kedongkolan atau kekhawatiran dalam hati kita kalau harta kita nanti akan berkurang, maka hati-hati, ini juga tanda-tanda kalau kita Kurang Ikhlas dalam beribadah, apalagi kalau ditambah lagi bumbu riya’ sebagai penyedap, makin habis pahala kita tersebut.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah besabda “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (ganjaran perbuatannya) sesuai apa yang telah ia niatkan”

Imam An Nawawi mengatakan disini bahwa hadits tersebut shahih dan sudah disepakati keshahihannya dan beliau juga berpendapat bahwa hadits ini juga disepakati sebagai salah satu hadits yang keutamaannya sangat besar serta merupakan salah satu hadits yang menjadi dasar-dasar islam. Jadi jelas, bahwa niat yang ikhlas adalah salah satu kunci bahwa kita memiliki iman yang teguh. Mulai sekarang, coba perbaiki niat kita, barangkali ada ibadah-ibadah yang selama ini kita anggap enteng niatnya karena sudah kebiasaan, misalnya shalat, karena malu sama orang tua, suami, atau tetangga, jadi kita shalat karena malu nanti diomongin tetangga karena ga shalat, atau malu karena beragama islam tapi ga shalat, ubah niat yang begitu, jadikan shalat adalah kebutuhan kita, jadikan shalat menjadi tempat curhat kita sama Allah, apalagi di sepertiga malam, enak banget tuh buat curhat sama Allah, karena ga ada yang dengar kecuali Allah.

  1. Konsistensi Emosional

Setiap manusia pasti punya perasaan atau emosi dan akal sehat, kecuali manusia yang udah dicabut sama Allah kewarasannya, tapi kadang manusia itu sebagian tenggelam dalam lautan emosi sampai tidak memiliki sikap bijaksana yang menyebabkan kebuntuan dalam berfikir, kondisi seperti ini yang menyebabkan seseorang mudah melakukan kesalahan dan meninggalkan kebenaran. Artinya kalau kita lagi emosi pasti kita bakal gampang mengambil suatu tindakan yang gegabah, makanya Rasulullah melarang kita membuat keputusan kalau kita berada dalam puncak emosi atau sedang dalam keadaan marah dan memberi petunjuk kepada kita ketika menghadapi kemarahan, salah satunya dengan diam.

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.

(HR. Ahmad)

Karena manusia cenderung mengambil keputusan yang kurang tepat kalau dia sedang dalam keadaan marah. Inilah kondisi yang dialami oleh sebagian orang yang bersikap konsisten secara emosional (perasaan) yang bukan karena keinginannya sendiri atau kesadaran, orang ga bakal sadar kalau sedang mengambil keputusan yang salah kalau sedang marah, yang ada di fikirannya hanya bagaimana menghancurkan musuhnya, bagaimana caranya agar hal yang membuatnya marah tersebut segera hancur.

Terkadang sikap konsisten semacam ini timbul karena dipengaruhi suatu nasihat atau sugesti yang ia dengar sehingga hal tersebut mampu mempengaruhi dirinya baik secara mental maupun fisik. Dan pengaruh semacam itu bersifat sementara serta mudah hilang, biasanya akan diikuti oleh penyesalan karena sudah mengambil tindakan yang salah.

  1. Kecenderungan Kepada Apa Yang Telah Berlalu

Kadang kita suka iri sama apa yang didapatkan oleh teman kita yang jalan hidupnya tidak sama dengan yang kita lalui saat ini,  yang dahulunya merupakan orang yang sama-sama dengan kita dikala kita belum hijrah, dan ketika kita sudah hijrah serta sudah tahu mana yang haram dan dilarang agama, maka kita melihat adanya “kebebasan” yang didapatkan oleh teman kita tersebut disebabkan ketidaktahuannya dalam syariat, terlihat seperti hidupnya lebih bebas, karena masa bodoh dengan syariat Allah. Tapi pada dasarnya bukan begitu, justru kita yang lebih bebas, kenapa? karena dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah kepada kita, dengan pengetahuan kita terhadap hukum-hukum yang ditetapkan Allah kepada kita sebagai umat muslim, maka semakin bebas pula kita dari dosa, maksiat, dll. Dan semakin bebas pula kita dalam berjalan lurus ke arah ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika seseorang hendak bersikap konsisten, pasti tiba-tiba ia merasakan suatu perpindahan dalam hidupnya, dimana pada masa lalu ia hidup dengan penuh maksiat kepada Rabb-nya, dipermainkan setan dan penuh keguncangan dalam hidupnya, kemudian ia berpindah (hijrah) menuju kestabilan rohani dan ketentraman. Keguncangan itu wajar, karena Rasulullah saja sering dicegat oleh kamu kafir Quraisy ketika hendak hijrah ke madinah, tidak sedikit umat Rasulullah yang disiksa bahkan dibunuh ketika diketahui bahwa ia akan meninggalkan kota Mekah bersama Rasulullah, makanya Rasulullah terpaksa mengambil jalan memutar dari pintu Mekkah yang terdekat dengan Madinah, karena pintu tersebut dikawal oleh kaum kadir Quraisy. Begitu dengan kita sekarang, pasti ada hambatan, pasti ada pemikiran bahwa ada perbedaan yang amat jauh antara kehidupan kita di masa lalu yang penuh dengan maksiat dengan kehidupan kita yang sekarang.

Ketika pada suatu masa, kita teringat pada masa lalu tersebut, sahabat-sahabat kita dan berbagai prilaku kita yang terbilang “bebas” ketika bersama mereka, dan kemudian kita mencoba melepaskan tali kekang pikiran kita untuk menelusuri dan mencoba mengilang masa lalu yang kita bilang “indah” tersebut, disinilah iman kita diuji, karena sikap semacam ini bisa saja membahayakan iman kita dan mengancam keistiqamahan kita dalam proses perubahan dan secara tidak langsung telah memberi peluang kepada syaitan untuk melancarkan serangannya kepada kita berupa tipu daya serta permainan sampai kita berfikir untuk meninggalkan proses hijrah kita tersebut. Inilah yang patut kita waspadai karena hal ini sangat rawan terjadi dalam proses-proses hijrah kita hari ini, maka dari itu, kurangi melihat apa yang dimiliki orang lain.

Rasulullah bersabda dalam hadits kitabul jami’ hadits ke-2 :

أُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ عَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada yang dibawah kalian dan janganlah kalian melihat yang diatas kalian sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian”.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, kurangi memandang indah dosa-dosa yang sudah kita buat pada masa lampau, perbanyak istighfar ketika kita melihat bahwa kita pernah melakukan dosa tersebut di masa lalu, dan bersyukurlah terhadap apa yang sudah kita milik saat ini, karena hidayah itu mahal, dan hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman dan mampu mempertahankan keimanannya.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: