DPW DKI Jakarta dan Depok

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan dan Lailatul qadar #1#

0 256

Allah Ta’ala mengistimewakan sebagian makhluqNya dan memuliakan yang terbaik. Dia mengistimewakan beberapa hari dan bulan tertentu. Dia jadikan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sebagai hari paling istimewa dalam setahun. Hari yang paling  mulia dalam setahun adalah hari Jum’at. Dia juga mengistimewakan bulan Ramadhan dari bulan-bulan lain. Dan dari bulan ramadhan Dia pilih sepuluh malam terakhir sebagai malam paling mulia di bulan Ramadhan. Dan yang paling mulia dari sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah Lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Oleh karena itu sepuluh malam terakhir Ramadhan hendaknya mendapatkan porsi perhatian yang lebih besar dalam ibadah. Salah satu upaya memanfaatkan momentum sepuluh malaam terakhir Ramadhan yang terdapat #Lailatulqadar di dalamnya adalah meningkat mujahadah dan kesungguhan dalam beribadah pada sepuluh malam tersebut.

Meningkatkan kesungguhan dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir ramadhan merupakan salah satu sunnah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersungguh-sungguh dengan kesungguhan yang serius dalam beribadah di sepuluh malam terakhir ramadhan dengan maksud (salah satunya) mencari malam #Lailatulqadar.

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في العشر الأواخر ما لا يجتهد في غيره  رواه مسلم

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (melakukan ibadah) dengan kesungguhan yang tidak sama pada malam-malam lainnya”. (HR. Muslim).

Ummul Mukminin juga mengatakan,

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

“Apabila telah masuk sepuluh terakhir Ramadhan Nabi shallalahu alaihi wasallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keuarganya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksud dari syadda mi’zarahu (mengencankan sarungnya); beliau begadang dan lebih bersungguh-sungguh dalam  beribadah pada sepuluh malam terakhir melebihi kebiasaan beliau pada malam-malam sebelumnya.

Dikatakan pula bahwa ungkapan di atas merupakan kinayah (kiasan) dari menjauhi dan tidak menggauli istri-istrinya. []

Bersambung insyaAllah. 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: