DPW DKI Jakarta dan Depok

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan dan Lailatul Qadar #4#

0 355

Perbanyak Do’a dan Istighfar

Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan salah satu amalan yang perlu terus ditingkatkan adalah memperbanyak do’a dan istighfar. Dan diantara yang hendaknya tidak boleh luput adalah memohon dibebaskan dari neraka. Karena setiap malam di bulan Ramadhan Allah membebaskan setiap hambaNya dari neraka dan setiap hamba memiliki do’a yang mustajab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang hal ini;

إنَّ لله عتقاءَ في كلِّ يوم وليلة، لكلِّ عبد منهم دعوةٌ مستجابة

 “Sesungguhnya setiap hari siang dan malam Ramadhan ada yang dibebaskan dari neraka oleh Allah, dan setiap hamba memiliki do’a yang mustajab”. (HR. Ahmad, no. 7450 dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Selain itu do’a lain yang hendaknya selalu dipanjatkan pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan adalah permohonan ampun yang diajarkan oleh Nabi kepada Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha;

‘Aisyah mengatakan; “Wahai Rasulullah, bagaimana saran engkau jika aku mengetahui (mendapatkan) Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan padanya?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah,

اللهم إنك عفو تحب العفو، فاعف عني

 “Wahai Allah, sesungguhnya Engkau maha Pemaaf, menyukai permohonan maaf, maka maafkanlah daku“. (HR. At-Tirmidzi, Hasan Shahih).

Do’a ini hendaknya dibaca setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Karena malam Lailatul qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Sebagaimana diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

التمسوها في العشر الأواخر من رمضان

“Carilah ia (lailatul qadar) pada sepuluh  malam terakhir Ramadhan,”. (HR. Bukhari dan Tirmidzi).

Dianjurkan pula bagi setiap Muslim untuk mengakhiri Ramadhan dengan memperbanyak istighfar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Istighfar bermakna juga do’a memohon ampunan. Ini penting karena do’a orang puasa mustajab, baik do’a saat menjalani puasa di siang hari maupun do’a saat berbuka atau menjelang berbuka puasa.

Istighfar merupakan penutup setiap amal shaleh. Ia merupakan penutup shalat, haji, dan qiyamullail, serta kaffaratul majlis. Maka seyogyanya juga seorang Muslim menutup puasa Ramadhan nya dengan istighfar.

Berkenaan dengan hal ini, diriwayatkan, Umar bin Abdul Aziz  rahimahullah (ketika menjadi khalifah) menulis surat imbauan kepada para gubernur di berbagai wilayah pada akhir Ramadhan. Beliau menginstruksikan kepada masyarakat untuk mengakhiri Ramadhan dengan istighfar dan zakat fitrah. Karena zakat fitrah pembersih orang puasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata, sedangkan istighfar menambal puasa yang sobek karena perbuatan sia-sia dan perkataan kotor”. (Lathaif Ma’arif, 214).

Namun perlu diingat, istighfar yang paling bermaanfaat adalah yang disertai dengan taubat. Karena itu istighfar hendaknya disertai dengan meninggalkan dosa, menyesali perbuatan dosa tersebut, serta bertekad untuk tidak mengulangi dan mengembalikan hak yang diambil secara dzalim kepada pemiliknya jika dosa kepada sesama manusia. -sym- []

Bersambung insya Allah

Sumber: 38 Faidah fil ‘Asril Awakhir Wa Lailatil Qadr

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: