DPW DKI Jakarta dan Depok

Serial Tadabur Ramadhan Juz 3

Tadabbur Al Quran
0 146

💎 Tadabur Beberapa Ayat Juz-3 💎
🗓️ 3 Ramadan 1442 H

▪️Firman Allah azza wajalla:
لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: Tidak ada paksaan untuk (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa ingkar kepada ṫāgūt dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah, ayat 256)
📝 Faedah : Barangsiapa yang menyadari dan memakai kebesaran islam dan kejelasan petunjuknya maka tentu dia tidak membutuhkan paksaan karena orang berakal tentu akan dituntun oleh akalnya ke jalan yang benar.

▪️Firman Allah azza wajalla:
وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيۡفَ تُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰۖ..
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” (QS Al-Baqarah, ayat 260)
📝 Faedah : Sangat besar perbedaan antara orang yang meminta dalil dan petunjuk agar menambah keimanan dan ketakwaannya, dengan orang yang meminta dalil karena ragu dan tersesat.

▪️Firman Allah subhanahu wa taala:
قَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞ وَمَغۡفِرَةٌ خَيۡرٞ مِّن صَدَقَةٖ يَتۡبَعُهَآ أَذٗىۗ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٞ
Artinya: Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun.( QS Al-Baqarah, ayat 263)
📝 Faedah : Tidak ada syariat yang sangat menjaga dan memperhatikan perasaan manusia seperti yang dilakukan syariat islam, gunakanlah akhlakmu sebelum kamu menggunakan tanganmu untuk bersedekah.

▪️Firman Allah subhanahu wa taala:
هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ
Artinya: Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qurān) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qurān) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya Al-Qur`ān), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. ( Q.S. Ali ‘Imran, Ayat 7)
📝 Faedah :
Umar bin Khattab radiyallahu’anhu berkata, “Saya tidak khawatir pada umat ini dari seorang mukmin yang dengan imannya mencegah dia (dari melakukan hal yang dilarang) atau dari seorang fasik yang sangat jelas kefasikannya, namun yang saya khawatirkan dari umat ini adalah seseorang yang membaca al-Qur’an dengan lisannya kemudian dia menakwilkan kepada yang bukan takwilnya.” [Lihat: Jami Bayan al-Ilm wa Fadlihi : 2/194)

▪️Firman Allah subhanahu wa taala:
إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
Artinya: (Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS Ali ‘Imran, Ayat 35)
📝 Faedah :
1. Dr Abdul Muhsin al-Muthairi berkata, “Disebutkan di kitab tafsir bahwa istri Imran bernazar anaknya kelak akan menjadi abid di Baitul Maqdis, maka sejatinya hakikat kebebasan dan kemerdekaan itu adalah ketika kamu menjadi sebenar-benarnya hamba Allâh.”
2. Prof Nashir Al Umar berkata, “Adalah mereka menyiapkan anak-anaknya untuk dapat juga memikul persoalan yang ada dalam agama ini sebelum mereka (anak-anak) itu lahir dan memohon kepada Tuhannya agar Dia berkenan menerimanya. Maka adakah uzur bagi orang yang melewatkan begitu saja umurnya tanpa menentukan proyek kebaikan dalam hidupnya?

▪️Firman Allah subhanahu wa taala:
وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصۡطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ. يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ وَٱسۡجُدِي وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas semua wanita di seluruh alam (pada masa itu). Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.”(QS Ali ‘Imran, Ayat 42-43)
📝 Faedah :
Ibnu Utsaimin berkata, “Sepantasnya bagi manusia setiap kali bertambah nikmat Allah kepadanya agar menambah juga kesyukurannya kepada Allâh dengan ketaatan, rukuk, sujud dan berbagai jenis ibadah yang lainnya” [Lihat: Tafsir Ali Imran : 1/260]

▪️Firman Allah azza wajalla: Q.S. Ali Imran, ayat 41
📝 Faedah:
Dr. Muhammad al-Khudair menjelaskan, “Ketika Nabi Zakaria alaihissalam diberi kabar gembira dengan anak dia mengatakan:
قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ..
Artinya: Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku berilah aku suatu tanda.” Allah berfirman, “Tanda bagimu, adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat.. (QS Ali ‘Imran, Ayat 41)
Lalu dia menahan lisannya, dia tidak berbicara sedikit pun dari perkataan manusia, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata kepadanya
وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ
Artinya: Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memuji-Nya) pada waktu petang dan pagi hari.”
Sekiranya ada seseorang yang diizinkan untuk berhenti berzikir tentu Nabi Zakarialah yang paling berhak diizinkan untuk itu”. Karena di kesempatan itu beliau tidak berbicara sedikitpun.

▪️Firman Allah azza wajalla:
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّـۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ
Artinya: Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!” QS Ali ‘Imran, Ayat 79)
📝 Faedah :
Al-Razi berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu, taklim, dan pendidikan membentuk seseorang menjadi pribadi yang rabbani, siapa saja yang menyibukkan waktunya dengan itu semua namun tidak mencapai tujuan tersebut maka akan sia-sia dan gagal usaha dan amalannya.” [Mafatih al-Ghaib : 8/272]

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: