DPW DKI Jakarta dan Depok

Shalat Jum’at Online Bertentangan dengan Maqashid Syari’ah

Ilustrasi Shalat Jum'at di masa pandemi. Photo: Pikiran Rakyat
0 155

Shalat Jumat Online bertentangan dengan Maqashid Syari’ah

 

Wahdahjakarta.com-, Akhir-akhir ini, sekelompok kaum Muslim menawarkan shalat Jumat secara online. Ditetapkanlah imam serta khatib yang streaming secara online, sedangkan jamaah ikut secara real time lewat aplikasi daring. Sayangnya, praktik ini tampaknya abai dari kajian mendalam terhadap tujuan dari syariat shalat Jumat itu sendiri.

 

Hal itu ditegaskan oleh Ustadz Fakhrizal Idris, anggota Dewan Syariah Wahdah Islamiyah beberapa waktu yang lalu.  Menurutnya Shalat Jumat adalah ibadah mahdhah. Ada tujuan syariat di dalamnya, seperti menjaga kemurnian ibadah tersebut, sehingga tidak boleh dilakukan secara sembarangan”.

 

Dalam kajian yang dipresentasikan di depan anggota Dewan Syariah WI, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Jakarta Timur ini menulis:

 

“Karena shalat Jumat adalah ibadah mahdhah (khusus) sehingga harus ada teladan dan contoh spesifik dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Lantaran itu, tidak tepat mengubah pola ibadah shalat Jumat yang hukum asalnya diselenggarakan dalam satu bangunan yang utuh, dalam hal ini adalah masjid. Kemudian dijadikan terpisah-pisah dengan jarak yang berjauhan bahkan lebih jauh dari jarak sebuah sungai yang luas.”

 

“Lebih dari 1400 tahun yang lalu sebelum Covid-19 mewabah, syariat Islam telah memberikan rukhsah (ganti berupa keringanan bagi yang berhak). Bagi setiap Muslim yang wajib atasnya shalat Jumat bisa menggantinya dengan shalat Zuhur sebanyak empat rakaat dan tidak perlu berkumpul dengan orang banyak. Rukhsah ketika seseorang atau banyak orang khawatir akan keselamatan jiwa mereka. Baik karena kondisi safar, takut kepada penagih utang –padahal dia belum mampu membayarnya–, atau karena sakit,” jelas alumnus Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah (UIM) ini.

 

Dalam kajian tersebut, terungkap pula bahwa model shalat Jumat secara daring ini ditolak oleh banyak ulama. Termasuk lembaga-lembaga fatwa internasional, seperti International Union for Muslims Scholars. []

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: