DPW DKI Jakarta dan Depok

Takwa Puncak Tujuan Ibadah Puasa

0 276

Takwa Puncak Tujuan Ibadah Puasa

Takwa Puncak Tujuan Ibadah Puasa

Ibadah puasa yang dilaksanakan hamba selama bulan Ramadhan tidak lain adalah untuk meraih derajat takwa. Takwa yang sebenar-benarnya takwa. Yakni menjalankan seluruh perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dalam Alqur’an, Allah Ta’ala tegaskan:

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ”

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183).

Dan jika kita telaah dengan saksama ibadah sepanjang bulan Ramadhan, akan nampak bagi kita hakikat jalan untuk mencapai takwa itu.

Selama berpuasa, hamba meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Bahkan sesuatu yang pada asalnya boleh seperti makan, minum, dan berhubungan dengan istri. Ini semua merupakan indikator dari takwa itu.

Demikian pula, selama berpuasa, hamba muslim bersungguh-sungguh menegakkan ibadah kepada-Nya, baik yang sifatnyaa wajib maupun sunnah. Hampir tidak ada kebaikan yang dianjurkan dalam agama melainkan pasti berusaha di wujudkan pada bulan ini. Dan sekali lagi, ini juga merupakan indikator takwa yang sangat kuat.

Kedua perkara agung di atas merupakan gambaran bagi hakikat takwa itu sendiri. Thalq bin Habib rahimahullah berkata:

“التَّقْوَى: أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنْ اللَّهِ تَرْجُو رَحْمَةَ اللَّهِ وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنْ اللَّهِ تَخَافَ عَذَابَ اللَّهِ”

Takwa adalah engkau melakukan ketaatan pada Allah berdasarkan petunjuk dari Allah dan mengharap rahmat-Nya. Demikian pula, engkau meninggalkan maksiat yang Allah haramkan berdasarkan petunjuk dari Allah dan atas dasar takut pada-Nya”. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 1/400).

Nah, lantaran Ramadhan hanya ibarat terminal tempat pemberhentian sementara untuk mengisi ruhiyah dengan takwa, maka aplikasi sebenarnya dari takwa itu akan terwujud pada bulan-bulan selain Ramadhan.

Karena itu, siapa yang di bulan Ramadhan tidak bersungguh-sungguh mengisi ruhiyahnya dengan takwa dan kebaikan,  maka akan diharamkan atasnya kebaikan-kebaikan tersebut. Inilah yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Man hurima khairaha faqad hurim”.

Demikianlah, bahwa indikasi kesuksesan puasa Ramadhan kita itu ada pada sejauh mana semangat ibadah kita berubah. Baik buruknya sikap dan perangai kita, serta besar kecilnya rasa takut kita kepada Allah Ta’ala.

Jangan sampai ibadah puasa yang lelah kita tegakkan selama bulan Ramadhan, ternyata hanya berbuah rasa lapar dan dahaga saja. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tegas mengingatkan:

“رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ”

Boleh jadi, orang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani, Shahih li Ghairihi).

Imam Ma’ruf Al-Karkhi rahimahullah berkata:

“إذا كنتَ لا تُحسنُ تتقي أكلتَ الربا ، وإذا كنتَ لا تُحسنُ تتقي لقيتكَ امرأةٌ فلم تَغُضَّ بصرك…”

Jika engkau tidak baik dalam takwa, maka engkau pasti terjerumus memakan riba. Jika engkau tidak baik dalam takwa, saat ada wanita bertemu denganmu, engkau tidak menjaga pandanganmu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1/402).

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: