DPW DKI Jakarta dan Depok

Tanda-tanda Lailatul Qadar

0 332

Lailatul qadar memiliki beberapa tanda yang Nampak dan dapat dirasakan. Namun melihat dan mengalami tanda-tandanya bukanlah syarat mendapat kebaikan dan keberkahan malam lailatul qadar. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, keutamaan malam Lailatul qadar diperoleh dengan mengisi malam tersebut dengan qiyam dan ibadah-ibadah lainnya.

Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keutamaan qiyam Lailatil qadar;

“مَن قام ليلة القدر إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدَّم من ذنبه”. متفق عليه

“Siapa yang menegakkan (ibadah-ibadah) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan hanya mengharap balasan (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Iman[an] karena iman yang menjadi syarat mendapatkan ampunan dalam hadits tersebut maksudnya tashdiq (membenarkan) qiyam (shalat malam) yang dilakukannya pada malam tersebut merupakan ketaatan kepada Allah, dan meyakini pula bahwa Allahlah yang mensyariatkan shalat malam pada malam tersebut.

Adapun ihtisab[an] artinya mengharap pahala dari Allah , sehingga dia melakukan ibadah pada malam tersebut dengan sungguh-sungguh karena termotifasi oleh janji pahala yang dijanjikan Allah.

 

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari:

“Telah disebutkan dalam beberapa riwayat tanda-tanda lailatul qadar namun kebanyakan tanda-tanda tersebut tidak nampak kecuali setelah lewat malam tersebut”

Para ulama telah menyebutkan be-berapa tanda-tanda tersebut, berdasar-kan hadits-hadits yang shahih diantara-nya :

Bulan Sabit Seperti Belahan Piring

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kami bermudzakarah  (bertanya-tanya)  tentang kapan malam lailatul qadr ber-sama dengan Rasulullah Subhaanahu Wa Ta’ala, maka beliau bersabda :

Siapa saja diantara kalian yang mengingat ketika terbit bulan dan saat itu bulan bagaikan belahan piring (bulan sabit)” (HR. Muslim)

Suhu udara pada malam itu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Malam Lailatul qadar adalah malam yang sejuk tidak panas dan tidak dingin, di pagi harinya cahaya mentarinya lembut dan berwarna merah“ (HHR. Ath Thayalisi, Ibnu Khuzaimah dan Al Bazzar)

Cahaya Matahari Pada Pagi Hari-nya Tidak Menyengat

Dari Ubaiy bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda:

“Pagi hari dari malam lailatul qadr terbit matahari tidak menyengat bagaikan bejana, sampai meninggi” (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Abu Daud).

Namun tidak ada halangan bagi yang tidak melihat atau mengetahui tanda-tandanya untuk mendapatkan keutamaan dan pahalanya selama dia menghidupkan pada sepuluh malam terakhir dengan ibadah karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Oleh Karena itu tidak perlu menyibukkan diri dengan mengamati dan mengintai tanda-tanda fisik malam lailatul qadar. Lebih baik giatkan ibadah pada malam terakhir sebagaimana anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. –sym- []

 

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: