DPW DKI Jakarta dan Depok

Tanya Jawab Fiqh Puasa [02]:  Mengkonsumsi Pil Pencegah Haid Agar Dapat Berpuasa, Bolehkah?

0 213

Tanya Jawab Fiqh Puasa [02]:  Mengkonsumsi Pil Pencegah Haid Agar Dapat Berpuasa, Bolehkah?

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya jika seorang perempuan menahan datangnya haid di bulan puasa (dengan sengaja menghentikan agar haid tidak keluar) agar bisa berpuasa penuh di bulan Romadhon. Dosakah cara yang dilakukan itu? Mohon jawabannya. (Solichah Munari).

Jawaban:

Pertama,

Pada dasarnya haid merupakan  ketentuan Allah yang ditetapkan kepada wanita, sebagaimana di dalam hadits,

هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah pada anak-anak wanita Adam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, maka hendaknya setiap wanita  muslimah menerima kenyataan dan ketetapan tersebut  sepenuh hati. Adapun ibadah dan amal shaleh  yang tidak terlaksana karena haid maka Allah yang maha pengasih dan penyayang serta maha adil telah menetapkan rukhshah (keringanan) bagi wanita untuk meninggalkan ibadah-ibadah tertentu saat haid.

Sehingga tidak perlu merasa berdosa jika luput dari suatu amalan karena sebab yang telah ditetapkan oleh Allah berupa rukhshah. Karena rukhshah tersebut merupakan sedekah dari Allah Ta’ala.  Sebagaimana dalam hadits;

“(Rukhsah) itu adalah sedekah yang diberikan Allah Subhanahu WaTa’ala kepada kalian. Maka terimalah sedekah-Nya.” (HR Muslim).

Dengan  menjalankan rukhsah berarti menerima hadiah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa kemudahan yang diberikan kepada kaum wanita.

Kedua,

Adapun mengkonsumsi obat atau pil penunda haid agar dapat berpuasa Ramadhan beberapa ulama membolehkan jika hal itu tidak menimbulkan mudharat, resiko, dan gannguan bagi kesehatan dan alat reproduksi baik sementara maupun permanen.

Syaikh Bin Baz rahimahullah mengatakan;

“Tidak masalah bagi wanita untuk menggunakan obat pencegah haid, menghalangi datang bulan selama bulan Ramadhan, agar dia dapat   berpuasa bersama kaum muslimin lainnya… dan jika ada cara lain selain konsumsi obat untuk menghalangi terjadinya haid, hukumnya boleh, selama tidak ada hal yang dilarang syariat dan tidak berbahaya.”

Artinya mempertimbangkan aspek maslahat dan manfaatnya serta aman dari mudharat dan resiko sangat dianjurkan.  Sehingga jika mengandung mudharat bagi tubuh wanita, mengkonsumsi obat pencegah haid sebaiknya tidak dilakukan.

Karena pil tersebut bersifat hormonal yang mungkin memengaruhi hormon yang  membuat siklus haid tidak teratur dan dikhawatirkan merusak sistim reproduksi serta efek samping lainnya seperti; Insomnia, rontok rambut, menambah berat badan, depresi, pusing,  perubahan libido, perubahan siklus menstruasi, sakit kepala dan mual, bahkan bisa menyebabkan kemandulan.

Oleh karena itu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli guna menghindari mudharat dan resiko yang mungkin timbul akibat mengkonsumsi pil pencegah haid tersebut.

Ketiga,

Meskipun wanita tidak berpuasa pada bulan Ramadhan karena haidh, namun masih banyak pintu kebaikan lain yang dapat dimasuki  untuk tetap  beribadah dan menuai pahala di bulan Ramadhan. Di antaranya :

  • Memperbanyak  do’a dan dzikir.
  • Memperbanyak shadaqah dan infak,
  • Memberi makan dan minum serta suguhan buka puasa,
  • Membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf,  boleh dengan menggunakan media elektronik seperti ponsel, tablet, komputer, atau Al-Qur’an digital lainnya.
  • Mengikuti kajian keislaman dan membaca buku-buku islami.
  • Berbakti kepada kedua orangtua dan suami, Dan sebagaianya. [sym].

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: