DPW DKI Jakarta dan Depok

Tergadai Iman Gegara Teman

0 252

 

TERGADAI IMAN GEGARA TEMAN
(Majelis Tadarus Sirah Part 110)

Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Uqbah bin Abi Mu’aith. Nama ini akan sering disebut ketika kita membaca Sirah Nabawiyah. Terutama saat pembahasan tentang perlakuan orang-orang musyrik di Makkah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Siapakah dia?
.
Dia tetangga dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetangga baik awalnya. Sangat menaruh hormat terhadap Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.

Hari itu ‘Uqbah mengadakan jamuan makan di rumahnya. Karib kerabat dan handai taulan, semua diundangnya. Termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetangga dekatnya.
.
Setiba di rumah Uqbah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak langsung makan. Beliau hanya berdiri di depan pintu. Ada yang ingin beliau sampaikan terlebih dahulu kepada Uqbah si tuan rumah.
.
“Aku tidak akan memakan hidanganmu,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Kecuali jika engkau besedia mengikrarkan syahadat..” lanjut beliau.
.
“Apa itu?” tanya Uqbah.
.
“Aku tidak akan memakanya sampai engkau berikrar ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah,” kata baginda Nabi.
.
Demi agar tamunya itu bersedia turut memakan jamuannya, Uqbah pun berikrar. Ia ucapkan syahadat. Sebuah persaksian penanda seseorang masuk ke dalam pintu Islam.
.
Masuklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam dan turut menikmati jamuan tetangganya dekatnya itu.

Kabar bahwa ia mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam cepat menyebar. Hingga terdengar pula di telinga Ubay bin Khalaf, sahabat dekat Uqbah.
.
Oleh Ubay, didatanginyalah sahabat dekatnya. Dia ingin memastikan, apakah benar kabar angin yang tersiar itu?
.
“Wahai Uqbah, engkau telah berpindah agama..?”
.
“ Begini.. Waktu itu aku mengadakan jamuan makan. Salah satu tamuku tidak bersedia memakan apa yang telah aku hidangkan, hingga aku bersedia untuk berikrar. Aku malu kalau sampai ada tam yang datang ke rumahku namun tidak sudi memekan jamuanku. Maka akupun berikrar..” setengah membela diri, Uqbah bin Abi Mu’aith bicara apa adanya.
.
“Aku tidak ridha..” kata Ubay, “sampai engkau mendatanginya dan meludah di wajahnya..”
.
Permintaan kawannya itu, betul ia turuti. Takut kehilangan teman, ia gadaikan iman.

Sejak saat itu Uqbah bin Abi Mu’aith berubah. Ia menjadi salah satu manusia yang paling beringas terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Apa kata Ubay bin Khalaf, diturutinya. Apa kata Abu Jahal, diturutinya. Bukan hanya meludahi, bahkan menginjak punggung, dan mengalungkan isi perut kambing di pundak Nabi.
.
Sungguh merugi.. Tidak punya pendirian.
Hanya demi sebuah pengakuan dari “geng”-nya, ia akan derita penyesalan abadi.
.
Nama masuk dalam salah satu di antara tujuh deretan nama, yang didoakan kebinasaan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Secara khusus beliau sebut nama mereka satu per satu.
.
Para shahabat menjadi saksi bagaimana pemilik nama-nama itu terbunuh di Perang Badar. Bahkan Uqbah lebih tragis. Dia bukan sekedar terbunuh saat perang berkecamuk. Dia tertawan, lalu dijatuhi hukuman mati. Kepalanya dipenggal.
.
Ini baru balasan di dunia. Penyesalannya di akhirat berlipat-lipat besarnya. Sampai dia gigit bukan hanya jari-jemari, namun kedua tangannya.
.
Para ulama tafsir menyebutkan kisah dua sahabat itulah yang menjadi sebab turunnya ayat ke 27-29 di Surat Al Furqan.
.
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul..”
.
“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman karibku.”
.
“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran, ketika Al Quran itu telah datang kepadaku’. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.”

Semoga Allah karuniakan kepada kita kawan-kawan yang senantiasa mengingatkan. Yang tak lelah menguatkan, dan mendekatkan pada ketaatan.
.
Amin.
🤲🏻
.
.
Referensi:
– Ar Rahiqul Makhtum
– Tafsir Ath Thabari
– Zadul Masir
– Lubabun Nuqul
– Fii Zhilalil Qur’an
.
.
✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: