DPW DKI Jakarta dan Depok

Terimakasih Lazis Wahdah Islamiyah

Relawan Lazis Wahdah Islamiyah
0 162
Relawan Lazis Wahdah Islamiyah

Terimakasih Lazis Wahdah Islamiyah

(Kisah Nyata dari Lombok Barat )

 

(wahdahjakarta.com)-, Pernikahan kami di tahun 2006 silam menimbulkan gejolak di kampungku, bahkan desaku. Ramai berita dan cerita di desaku, aku telah salah memilih suami. Bahkan kata salafi dijadikan akronim dari kata salah pilih oleh teman-temanku.

Ibuku hampir stres dengan keadaan itu. Anak sarjana satu satunya saat itu kenapa justru salah memilih jalan hidup beragama. Sesat kata mereka, dan itu merasuk ke dalam relung fikiran ibuku. Suamiku adalah salah satu alumni STIBA Makassar yang merupakan salah satu lembaga pendidikan milik Wahdah Islamiyah.

Maka mulailah kami hidup dengan cap sebagai orang yang berbeda dengan orang sekampung. Berat bagiku awalnya karena aku juga guru Agama di salah satu sekolah negeri. Kujalankan tugasku sehari-hari tanpa mencederai yang kuyakini. Bergumul dengan kondisi lingkungan bukan sesuatu yang ringan.

Kami bersyukur beberapa anggota keluarga memahami pemahaman kami dan mau menerima kami dengan baik. Pelan-pelan kami terus meyakinkan ibu dan keluarga dengan interaksi serta perilaku yang baik. beliau juga melihat keseharian kami, mungkin memberikan kesadaran tersendiri dalam hati ibu, bahwa anak dan menantunya baik-baik saja dalam beragama. tidak seperti yang dituduhkan orang-orang.

Kami harus menerima lirikan-lirikan aneh dari warga ketika kedatangan tamu yang merupakan teman-teman seperjuangan suami dalam dakwah. Sesekali kadang sampai ke telinga teriakan salafiiii….

Huh nyesek juga….tapi ya sudahlah fikirku.

Yang lebih bikin nyesek adalah fitnah bahwa shalat kami dan ibadah-ibadah kami digaji. Itu  yang disampaikan ibu kepadaku. Tetapi justru hal ini kujadikan sebagai salah satu titik pencerahan untuk menyadarkan ibu, bahwa demikianlah fitnah. Karena beliau lihat sendiri bagaimana suamiku bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari hari kami.

Hingga tibalah malam itu, gempa dengan kekuatan 7 SR menguncang desaku kemudian gempa susul menyusul meluluh lantakkan desaku.

Apa hubungannya dengan kehidupan dan keluargaku?

Sebelum menimpa kami, Kabupaten Lombok Utara(KLU) dan Lombok Timur(Lotim ) telah lebih dahulu diluluh lantakkan oleh gempa, dan tim dari Lazis Wahdah telah berada di sana. Sehingga ketika gempa menimpa kami dan menghancurkan rumah hampir seluruh warga, maka segera tim Lazis Wahdah menuju ke desa kami memberikan bantuan. Bahkan Lazis Wahdah merupakan lembaga kemanusiaan pertama yang mengulurkan bantuan ke desa kami hingga hari ini.

Suamiku yang tadinya dicibir, tiba-tiba menjadi magnet bersama Lazis wahdah karena mereka tidak kenal lelah siang dan malam terus hadir memberikan rasa empati baik materi, moril, maupun seprituia.

Anak-anak, lansia, para janda, semua merasakan kehadiran Lazis Wahdah.

Doaku yang paling indah dalam fikiranku saat ini, semoga kehadiran wahdah bersama dakwahnya akan bersemi di desaku di masa yang akan datang

Terimakasih ya Allah puji syukur ke hadirat-Mu.

Terimakasih Laziz Wahdah Islamiyah dengan relawannya.

Terimakasih suamiku. [ed:sym]

Sumber: WAG Alumni STIBA tanpa mencantumkan nama penulis.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: