DPW DKI Jakarta dan Depok

Ternyata Palu Pernah Diterjang Gempa dan Tsunami 100 Tahun Lalu

Relawan sedang mengevakuasi Korban Gempa Sulteng
0 146
Relawan sedang mengevakuasi Korban Gempa dan tsunami Palu.

“Ternyata Palu pernah diterjang gempa 100 tahun lalu, yakni awal tahun 1900an dan sekitar 1937, namun tidak diketahui apakah disertai tsunami atau tidak”

Menurut Hamza Latief dari Institut Teknologi Bandung, tsunami bukanlah yang pertama kali menghantam area (Palu dan sekitarnya) tersebut. Berdasarkan catatan sejarah, pada 1927, gelombang setinggi 3-4 meter bergerak di mulut teluk, namun meningkat hingga 8 meter ketika mendekati daratan.

***

Para ahli dan pakar di bidang geofisika, khususnya seismologi, masih mempelajari penyebab pasti terjadinya tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Phil Cummins, seorang profesor bencana alam dari Australian National University menyebut dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memastikan penyebab tsunami di Sulteng.

Cummins menjelaskan, gempa di Sulteng pekan lalu bukan berjenis thrust earthquake, yakni jenis gempa yang kerap menyebabkan tsunami. Dalam kondisi gempa seperti ini, lempeng tektonik bergerak secara vertikal naik dan turun serta memindahkan air.

Sebaliknya, gempa Sulteng disebabkan oleh lempeng tektonik yang bergerak secara horizontal. Gempa tersebut, menurut Cummins, biasanya hanya menyebabkan tsunami kecil atau lemah. Tak hanya itu, ia menjelaskan, tsunami kerap disebabkan oleh gempa yang jaraknya ratusan mil dari pantai dan goncangan jarang dirasakan di darat.

Sementara di Sulteng, gempa terjadi tak jauh dari pantai. “Adalah tidak biasa melihat bencana ganda seperti ini,” kata Cummins, dikutip laman the Guardian pada Selasa (2/10). Disebutkan bahwa dibutuhkan beberapa bulan penelitian lapangan dan eksplorasi bahwa laut untuk menentukan penyebabnya.

Chairman of the Asian School of Environment di Nanyang Technological University, Singapura, Adam Switzer menyoroti tentang pertanyaan apakah gempa bumi dan tsunami di Sulteng tak terprediksi. Ia mengatakan, terdapat sistem gangguan besar dan terdokumentasi dengan baik yang berjalan melalui Palu dan panjangnya sekitar 200 kilometer.

Ia mengungkapkan terdapat peristiwa serupa pada awal 1900-an dan sekitar 1937, walaupun tidak diketahui apakah hal itu menyebabkan tsunami.

 “Dan ada sebuah makalah yang diterbitkan pada 2013, di mana disarankan sesar Palu, yang sangat lurus dan panjang, berpotensi menyebabkan gempa bumi dan tsunami yang sangat merusak,” katanya.

Jadi menurutnya, telah terdapat bahan untuk dipelajari guna mengantisipasi terjadinya gempa dan tsunami di Sulteng. “Tapi pertanyaannya adalah, apakah kita belajar sesuatu dari insiden masa lalu? Sepertinya tidak demikian,” ujar Switzer.

Hamza Latief dari Institut Teknologi Bandung yang telah meneliti garis patahan itu sejak 1995 mengatakan, tsunami bukanlah yang pertama kali menghantam area tersebut. Berdasarkan catatan sejarah, pada 1927, gelombang setinggi 3-4 meter bergerak di mulut teluk, namun meningkat hingga 8 meter ketika mendekati daratan.

Sumber: Republika.co.id

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: