DPW DKI Jakarta dan Depok

Terpelanting dari Jalan Dakwah

Terpelanting dari Jalan Dakwah (Tasaquth)
0 247

Syaikh Fathi Yakan menyebut dengan istilah ‘tasaquth’. Artinya jatuh, atau berguguran, atau kalau boleh bahkan kita sebut ‘terpelanting’. Orangnya disebut ‘mutasaaqith’, jamaknya ‘mutasaaqithuun’. Al mutasaaqithuun ‘alaa thariiqid dakwah artinya ‘mereka yang berguguran di jalan dakwah’. Nas’alullahal ‘afiyah.

Sebab tasaquth, bisa banyak faktor. Bisa dari diri sendiri karena lemahnya tarbiyah. Bisa karena faktor lembaga, entah lemahnya kepemimpinan, lemahnya sistem, lambatnya problem solving, dll. Bisa juga karena faktor eksternal, artinya faktor di luar diri sang da’i maupun di luar lembaga dakwah (harakah).

Di medan dakwah, bentuk ‘tasaquth’ bisa bermacam-macam. Beraneka ragam bentuknya. Ada yang sekedar “meredup”. Ada yang “temaram”. Ada yang “terbenam”. Dan ada juga yang betul-betul “hilang dari peredaran”.

Terpelanting dari Jalan Dakwah (Tasaquth)

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu, apa ada juga fenomena tasaaquth? Jawabnya, ada. Syaikh Fathi Yakan mencontohkan, salah satunya adalah kasus Ka’ab bin Malik dan 2 orang shahabat radhiyallahu ‘anhum yang tertinggal dari Perang Tabuk.

Sebetulnya, yang tertinggal dari Perang Tabuk banyak. Bukan hanya beliau bertiga. Ada yang lainnya juga, dan ini diluar orang-orang munafik yang jumlahnya 80 lebih.

Kasus Ka’ab bin Malik menjadi sangat terkenal karena termasuk “spesial”. Dimana spesialnya? Mereka bertiga ini bukan kader ‘abal-abal’. Mereka adalah kader senior. Marhalahnya sudah cukup tinggi.

Ka’ab bin Malik sendiri adalah peserta Bai’at Aqabah II. Beliau adalah penyair, bisa dikatakan termasuk kategori masyarakat “kaum intelektual”. Beliau sudah mahir baca-tulis di saat masyarakat Arab belum melek budaya baca dan tulis. Artinya, beliau kader istimewa.

Hilal bin Umayyah dan Murarah bin Rabi’ kata Ka’ab bin Malik, adalah “rajulaini shaalihaini qad syahidaa Badran”, dua orang SHALIH veteran jihad Badar. Tidak tanggung-tanggung, ahlu Badar itu sudah dapat legitimasi langit bahwa Allah ridha kepada mereka. “I’maluu maa syi’tum qad ghafartu lakum”, berbuatlah sesuka kalian karena Aku telah ampuni kalian.

Ka'ab bin Malik

Itulah faktanya. Fakta spesial, bahwa “kader spesial” pun kadang terpeleset hingga terjatuh. Kadang tergelincir. Kadang terpelanting di jalan dakwah. Namun demikian, kisah ini semakin spesial karena penanganannya juga spesial.

Kader-kader spesial ini telah melakukan pelanggaran berat di mata syari’at. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sanksi yang ‘spesial’, namun EFEKTIF.

Sanksi itu tergolong berat. Sangat berat bahkan. Tapi Sang Murabbi tahu, kader-kader spesial ini masih dalam batas kemampuannya menanggung beban spesial, beban berat.

Rasulullah shallallahu lalaihi wa sallam tahu, di ‘marhalah’ ini, mereka bukan kader ‘kaleng-kaleng’. Bukan kader ‘baperan’. Tidak ‘mutungan’. Tidak ‘ngambekan’. Mereka terima sanksi itu dengan ‘legowo’.

Alhamdulillah, Allah terima taubat mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun ‘sumringah’ hingga wajah beliau melebihi indahnya rembulan. Para shahabat gegap gempita menyambut kabar dari langit. Mereka berlomba mem-‘forward’ pesan langit ini agar segera sampai kepada Ka’ab dan kawan-kawan beliau – radhiyallahu ‘anhum.

Ada yang berlari. Ada yang naik kuda, agar lebih cepat. Ada yang naik ke bukit lalu berteriak, karena kecepatan suara tentu lebih cepat dari laju kuda.

Alhamdulillah, sekali lagi. Mereka radhiyallahu ‘anhum kembali diterima di langit dan di bumi. Setelah bumi terasa sempit dan sesak di dada.

“Selamat wahai Ka’ab, ini adalah hari paling menggembirakan sejak engkau dilahirkan oleh ibumu”, kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari sini kita belajar bahwa sebagus-bagusnya kader, setinggi-tingginya jenjang pembinaan (marhalah), peluang ‘tasaquth’ itu tetap ada. Ini karena berbagai faktor tadi.

Dan, yang paling penting adalah SOLUSI, bagaimana agar mereka yang ‘terpelanting’ bisa kembali “on the track”. Disini kita juga belajar, penyelesaian (termasuk pemberian sanksi sebagai pelajaran) kadang perlu disesuaikan ‘dosis’-nya dengan tingkatan pembinaan.

Nas’alullahal ‘aafiyah wal istiqaamah.

Jakarta, awa’il 2019

Murtadha Ibawi

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: