Tiga Tingkatan Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

0 115

Menurut Imam Al-Ghazali, puasa itu memiliki tiga tingkatan; puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus orang khusus.

 

Puasa adalah ibadah dengan cara meninggalkan dan atau menahan diri makan, minum, dan perbuatan lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Ini pengertian puasa secara definisi. Artinya jika seseorang meninggalkan makan, minum, dan hal lain yang membatalkan puasa dengan disertai niat, maka dia dianggap telah berpuasa. Yakni puasanya sah.

Namun sesungguhnya hakikat dan substansi tertinggi puasa bukan sekadar meninggalkan makan, minum dan pembatal puasa yang sifatnya lahiriah. Sebab ternyata puasa itu bertingkat-tingkat. Imam Al-Ghazali mengklasifikasi puasa menjadi tiga level (maratib).

Penjelasan sang Hujjatul Islam tersebut kami kutip dari kitab Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin,[1] halaman 37.[2]

Beliau mengatakan, “Puasa itu memiliki tiga level (maratib); puasa umum  (saum al-umum), puasa khusus (saum al-khusus), dan puasa khusus al-khusus”.

“Adapun saum al-umum adalah menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan”. Yakni meninggalkan makan dan minum serta hubungan badan. Beliau menyebut ini sebagai puasa[nya] orang awam. Semua orang berpuasa melakukan hal ini. Sebab ia merupakan standar utama sahnya puasa.

Mereka yang berada di level ini berpuasa dari hal-hal yang mubah, namunkadanhg terjatuh dalam perbuatan haram berupa memandang yang diharamkan Allah, ghibah, namimah, dusta, persaksian palsu dan dosa lainnya.

Sehingga dikhawatirkan mereka yang puasanya hanya sampai pada level ini termasuk dalam golongan manusia yang disebutkan Nabi dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

«رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، » (رواه أحمد وصححه الألباني

Banyak orang berpuasa namun yang dia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan haus”. (HR. Ahmad).

Selanjutnya, “puasa[nya] orang khusus, yaitu menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan serta menahan lisan, tangan, kaki, pendengaran, dan penglihatan dari dosa”.

Ini level kedua. Pada level ini orang yang berpuasa tidak hanya meninggalkan makan minum yang merupakan pemenuhan syahwat perut dan hubungan badan yang merupakan pemenuhan syahwat faraj (kemaluan). Tetapi orang yang berada pada puasa di level ini juga mem-puasa-kan anggota tubuhnya dari dosa. Yakni mengendalikan tangan, kaki, telinga, dan mata dari dosa.

Yang ketiga, puasa khususnya orang khusus. Yakni ‘’puasa[nya] hati dari obsesi-obsesi dunia yang rendah dan berbagai pikiran yang menjauhkan dari Allah serta mengendalikan hati secara totalitas dari selain Allah”.

Level ketiga lebih khsus lagi dari level dua dan pertama. Karena pelaku puasa level khusus al-khusus ini tidak hanya mempuasakan dirinya dari pembatal puasa dan dosa. Tapi hati dan pikiran serta nagan-angannya pun turut berpuasa. Hatinya berpuasa dari obsesi dunia yang rendah (daniah. Sedangkan pikirannya berpuasa dari angan-angan yang menjauhkan dari Allah.

 

Kita di Level Mana?

Kita patut bertanya, puasa kita di level mana?

Jangan sampai bertahun-tahun kita menjalani puasa, namun kita hanya berada di level  satu. Yakni hanya meninggalkan makan dan minum serta hubungan badan dan pembatal puasa lainnya. Puasa tetap sah. Kewajiban telah tergugurkan. Namun kadang puasa yang hanya di level satu sangat berpotensi rugi dari sisi pahala. Karena dalam satu haditsnya Nabi bersabda bahwa Allah tidak memiliki hajat terhadap puasa[nya] orang yang tidak menjaga lisannya dari dusta. Beliau bersabda;

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشرابه

Siapa yang tidak meninggalkan dusta dan perbuatan dusta, serta tindakan bodoh, maka Allah tidak memiliki hajat terhadap puasanya walaupun dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari)

Artinya, walaupun seseorang berpuasa dalam arti meninggalkan makan minum, Allah tidak berkenan terhadap puasanya jika ia tidak mempuasakan lisan dan anggota tubuh lainnya dari dosa.

Oleh karena itu kita harus naik level dari tahun ke tahun. Harus ada upaya serius menaikkan level puasa kita dari sekedar menahan lapar dan dahaga serta syahwat biologis. Naik ke level ‘’puasa dari dosa dan perbuatan sia-sia”. Termasuk puasa dari medsos yang melalaikan. []

 

 

[1] Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin adalah karya Al-Imam Najmuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi (w.689). Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Minhaj Al-Qashidin karya Imam Ibnu Jauzi, sedangkan Minhaj merupakan ringkasan dari Ihya Ulumuddin karya Hujjatul Islam Abul Hamid Al-Ghazali. Jadi, Mukhtasar Minhaj Qashidin sebenarnya ringkasannya ringkasan kitab Ihya karya Al-Ghazali.

[2] Najmuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi, Mukhtashar Minhaj Qashidin, Mesir: Darul Alamiyah 2016, cet.1, hlm. 37

Leave A Reply

Your email address will not be published.