DPW DKI Jakarta dan Depok

Ulama Dunia Mengecam Vonis Mati Pengadilan Mesir

Mesir
0 192

Ulama Dunia Mengecam Vonis Mati Pengadilan Mesir
Oleh : Ustadz Ilham Jaya Abdur Rauf, Lc, M.H.I

Mata dunia menyorot Mesir dua kali hanya dalam kurun waktu sebulan terakhir. Sebelumnya, negeri seribu menara ini memesona dunia dengan diplomasinya terkait jantung isu dunia Muslim: al-Quds dan Palestina. Diplomasi yang menghasilkan gencatan senjata antara pejuang Palestina dengan Israel. Peran Mesir dalam menyetop laju jatuhnya korban jiwa dan material dari kedua belah pihak dan mengembalikan suasana damai ke Gaza menegaskan posisi Mesir sebagai pemain penting di kancah global.

Nah, Senin (14/6) kemarin, negeri yang melahirkan banyak ulama ini kembali menyedot perhatian dunia. Tapi yang kedua ini lebih tepat disebut kecaman. Pasalnya, Pengadilan Kasasi Mesir menguatkan vonis mati terhadap 12 nama sebagaimana meringankan vonis 31 lainnya dari hukuman mati kepada penjara seumur hidup. Bagi banyak kalangan, keputusan pengadilan tersebut lebih kental nuansa politiknya. Tagar “awqiful i’damaat/stop ekseskusi” dalam bahasa Arab viral, khususnya di Mesir.

Kasus yang didakwakan kepada tertuduh terkenal sebagai I’tisham Rabi’atul Adawiyyah atau protes sipil lewat aksi i’tisham (menduduki) lapangan Rabi’atul Adawiyyah pada tahun 2013. Aksi damai yang populer dengan simbol rabi’ (empat) jari itu dalam rangka menentang kudeta militer terhadap Muhammad Mursi, presiden sipil yang sedang berkuasa. Selanjutnya, di era kekuasaan militer, Pengadilan Mesir tahun 2018 menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap 75 nama. Tuduhannya, tindakan pembunuhan dan perlawanan terhadap aparat keamanan. Pengadilan yang sama menjatuhkan vonis yang berbeda-beda terhadap hampir 600 nama lainnya.

Dari 12 nama yang divonis hukuman mati terakhir itu semuanya dikenal sebagai ulama atau aktivis demokrasi. Enam orang di antaranya membawa gelar doktor. Mereka antara lain adalah Dr. Abdul Rahman al-Barr, mantan dekan Fakultas Ushuluddin di Universitas Azhar as-Syarif dan dikenal sebagai Mufti Ikhwanul Muslimin. Vonis penjara seumur hidup ditimpakan kepada Dr. Muhammad Badi’, mursyid dari Organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir, dan Dr. Basim Audah, mantan menteri pasokan di era Mursi. Ada pula nama Usamah Muhammad Mursi, putra dari Presiden Mursi, yang divonis 10 tahun penjara.

Berita tentang vonis tersebut segera ditelan media. Merespon itu, dari Turki, Dr. Muhammad Abdul Karim al-Syeikh, Sekertaris Jenderal Rabithah Ulama al-Muslimin, meradang. “Sesungguhnya vonis bernuansa politis,” tulis ulama asal Sudan itu, “yang dikeluarkan oleh Mahkamah Kasasi Mesir hari ini yang menguatkan vonis mati terhadap dua belas jiwa dari kalangan ulama dan dai utama yang dikenal vokal menyuarakan kebenaran serta nasehat; dalam kasus yang dikenal sebagai I’tisham Rabi’atul Adawiyyah tahun 2013 merupakan kesalahan yang nyata, eksploitasi besar, merendahkan harkat kemanusiaan, dan jauh dari prinsip keadilan.”

“Peristiwa ini menuntut sikap yang jelas dari negara-negara Muslim, termasuk lembaga-lembaga dunia, asosiasi ulama, dan organisasi-organisasi hak asazi manusia,” pernyataan al-Syeikh selanjutnya. “Sesungguhnya Rabithah Ulama al-Muslimin menyeru para pemimpin dunia dan komunitas global untuk mengambil peran menghentikan hukum yang eksploitatif ini. Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.’ (TQS. Al-Ma’idah: 32)

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (TQS. an-Nisa: 93)

Pada hari yang sama, dari Beirut, Ibu Kota Libanon, Hay’ah Ulama al-Muslimin bersuara. Dalam rilisnya, Lembaga ini menulis, “Kami mendapat berita, beserta ummat Muslim dan publik dunia yang merdeka, tentang vonis mati massal yang dikeluarkan oleh rezim kudeta di Bumi Kinanah terhadap beberapa ulama Azhar as-Syarif, dai, dan tokoh intelektual Islam dari kelompok oposisi dan pejuang kebenaran.”

Kemudian Hay’ah ini menegaskan sikap. “Kami mendukung organisasi-organisasi ulama dan advokasi yang menentang pelanggaran ini. Kami juga mengajak semua pihak untuk satukan langkah menghentikan pembantaian terbuka di Bumi Mesir tersebut. Kami ingatkan agar jangan ada pihak yang terjerumus menghilangkan nyawa dari jiwa tak berdosa. Karena akan ada Allah Ta’ala yang menuntutnya dan memperhitungkannya.”

Sehari setelahnya, yaitu 15 Juni 2021, kecaman lain terbit dari Maroko. Pernyataan Rabithah Ulama al-Maghrib al-‘Arabi diawali dengan narasi yang keras. “Otoritas yudikatif Mesir telah mengelurkan dukungan bagi vonis mati terhadap sekelompok ulama, dokter dan tokoh pilihan. Mereka adalah pimpinan Revolusi 25 Januari yang kasusnya kemudian dikenal dengan peristiwa pembubaran I’tisham Rabi’atul Adawiyah, yang merupakan pembantaian massal yang menelan korban 4000 jiwa, tua-muda, laki-laki dan perempuan. Peristiwa yang merongrong pemerintahan yang sah dan membawa presiden terpilih pertama ke balik jeruji hingga meninggal -Rahimahullah- akibat diabaikannya perawatan kesehatan dan tekanan psikis.”

Pada tanggal 16 Juni 2021, tiga puluh dua lembaga ulama dari berbagai belahan dunia menandatangani dan mengeluarkan pernyataan bersama. Selain dikirim ke berbagai kantor media, pernyataan tersebut disampaikan langsung dalam konferensi lewat zoom kepada publik dunia.

Poin pertama dan kedua pernyataan tersebut berbunyi begini:

“Pertama, para ulama menekankan bahwa penahanan dan sikap represif terhadap ulama, tokoh-tokoh reformasi serta aktivis Islam dan pihak-pihak yang menuntut kebebasan berekspresi merupakan tindakan yang harus ditentang; apalagi bila sampai pada vonis mati.

“Sesungguhnya ketetapan pengadilan yang politis ini merupakan pelanggaran berat. Seharusnya, para dai dan aktivis sipil itu dihormati dan dihargai. Sebab mereka adalah pihak-pihak yang justru memperjuangkan kebaikan bangsa, menjaga kehormatan negara, serta simbol kebaikan ummat.

“Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan mengazab orang-orang yang menyiksa orang lain di dunia ini.’

“Dalam hadits yang lain diungkapkan, ‘Sesungguhnya hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah Ta’ala daripada membunuh jiwa seorang mukmin tanpa alasan yang hak.’

“Kedua, para ulama menekankan bahwa lahirnya vonis mati terhadap sejumlah tokoh ummat ini merupakan tanda-tanda kehancuran bangsa. Kepongahan untuk mengeksekusi vonis tersebut hanya akan membawa dampak destruktif yang sama-sama tidak diinginkan. Tindakan tersebut merupakan permusuhan terhadap wali-wali Allah Ta’ala dan bisa mengundang siksa-Nya.”

Pada poin kelima dan keenam pernyataan tersebut, tertulis begini:

“Kelima, para ulama menekankan bahwa kewajiban seluruh ummat untuk berusaha mencegah eksekusi tersebut lewat protes di media dan gerakan publik. Kami mengajak kaum Muslim di dunia untuk melakukan aksi damai di depan kedutaan dan kantor perwakilan Mesir.

“Sikap diam merupakan tindakan pembiaran yang berakibat buruk, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah seorang menelantarkan seorang Muslim dalam situasi kehormatannya dinista, nama baiknya dicemarkan, kecuali Allah Ta’ala akan merendahkannya pada situasi yang mana dia berharap pertolongan Allah. Tidaklah seseorang menolong seorang Muslim dalam situasi kehormatannya dinista, nama baiknya dicemarkan, kecuali Allah Ta’ala akan menolongnya pada situasi yang mana dia berharap pertolongan Allah.’

“Keenam, ulama menyeru organisasi masyarakat sipil dan hak asasi manusia di dunia khususnya di Barat untuk bereaksi cepat dan membangkitkan kesadaran publik serta tekanan politik untuk mencegah pelanggaran ini.

“Allah Ta’ala berkuasa terhadap urusan-Nya.’ (TQS. Yusuf: 21). ‘Orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (TQS. as-Syuara: 227).

Dalam konferensi ulama dunia via app zoom yang dihadiri 500 peserta yang terdiri dari ulama, tokoh-tokoh dunia, perwakilan media dan umum itu, tampil berbicara antara lain Dr. Ahmad ar-Raisuni dan Dr. Ali al-Qurrah Dagi. Keduanya di al-Ittihad al-Alami li Ulama’il Muslimin masing-masing menjabat sebagai ketua dan sekertaris jenderal. Hadir dan tampil berbicara juga ialah Dr. Nawwaf Takruri, Ketua Hay’ah Ulama Filastin.

Akankah kecaman ulama-ulama dunia ini diterima dengan baik oleh otoritas Mesir? Kita masih harus menunggu hingga beberapa hari ke depan.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: