DPW DKI Jakarta dan Depok

Urgensi Dakwah Pemikiran

0 198

Urgensi Dakwah Pemikiran

Oleh: Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf, Lc, M.H.I

(Ketua DPW Wahdah Islamiyah DKI Jakarta-Depok)

Bidang pemikiran memang mungkin ditakdirkan untuk tidak melibatkan banyak manusia. Apalagi dakwah pemikiran. Barriers to entry-nya lebih berat. Mengutip S.H. Alatas dalam ­Intellectuals in Developing Societies, kelompok intelektual ini memang minoritas. “Kelompok intelektual adalah kelompok individu yang mempunyai tingkat ilmu pengetahuan dan kesadaran jauh di atas kebanyakan orang di masanya.”

Tingkat kesulitan bidang pemikiran tampak pada cakupannya yang berseberangan dengan “ideologi” paralel di bidang akademik yang kini umum dianut. Satu pandangan yang menekankan pada bidang studi dan konsentrasi yang paralel pada jenjang pendidikan yang berbeda. Sebaliknya, bidang pemikiran justru menghendaki pendekatan yang integral dan tidak mengenal demarkasi yang kaku antara satu bidang kajian dengan bidang kajian lainnya. Dengan kata lain, Anda harus punya minat intelektual yang luas untuk masuk di bidang pemikiran ini.

Bisa dibayangkan tantangannya bila bidang pemikiran itu diletakkan dalam konteks dakwah. Upaya untuk mewujudkan rahmat Islam bagi semesta itu tidak terelakkan akan mengalami gesekan-gesekan dengan kekuatan-kekuatan hawa nafsu, kepentingan sesaat, serta perilaku korupsi lainnya. Tidak heran, bila al-Attas, misalnya, jauh-jauh hari memperhadapkan antara proyek Islamisasi ilmu kontemporer –salah satu sub dakwah pemikiran yang populer– dengan “corruption of the knowledge.”

Makanya, tokoh-tokoh Muslim di bidang intelektual dan pemikiran pada umumnya ensiklopedik. Selain latar pendidikan yang mumpuni, yang justru lebih menonjol adalah otodidak atau kajian mandiri yang luas dan serius. Sulit melacak sanad ilmu mereka semata-mata dari dosen-dosen yang pernah mengajar mereka secara langsung.

Coba cek kembali biografi tokoh-tokoh semacam Ibnu Taimiyah atau Muhammad Quthub atau Prof. Ja’far Sheikh Idris. Bandingkan keterangan tentang latar pendidikan dengan karya-karya mereka yang menawarkan perpektif perbandingan antara tradisi ilmu Islam dengan tradisi ilmu lainnya. Bukan hanya perbandingan, mereka mengkritik kesalahan-kesalahan pemikiran, baik itu yang lahir dari tradisi ilmu Islam maupun dari tradisi ilmu lainnya. Kajian yang melampaui zaman semacam itu hanya mungkin lahir dari disiplin belajar serta komitmen intelektual yang tinggi.

Contoh yang mudah adalah Muhammad Quthub. Dalam bukunya Madzaahib Fikriyyah Mu’ashirah, dia secara khusus mengupas secara kritis ideologi-ideologi dunia yang hingga saat ini masih berkembang. Segi yang dia soroti bukan hanya pada tataran konsep, tapi juga praksis bahkan pada bagian-bagian tertentu menyinggung tokoh-tokoh pencetus konsep-konsep tersebut. Satu juga model pendekatan yang belum banyak dilakukan.

Ada banyak deretan kajiannya yang menjabarkan Islam secara komprehensif. Syubuhaat haulal Islam (Kerancuan Paham terhadap Islam), Mafahiim Yanbaghi an Tushahhah (Meluruskan Gagal Paham), Waqi’unal Mu’ashir (Realitas Kontemporer Kita), Qadhiyyatu Tahriril Mar’ah (Masalah Emansipasi Wanita), dan lain-lain. Semuanya mengajak nalar Muslim modern untuk terbuka menghadapi tantangan kontemporer.

Pertanyaan yang kemudian mengemuka, kenapa harus repot? Apakah bidang dakwah pemikiran ini demikian urgen? Sayangnya, ummat Muslim tidak punya banyak pilihan. Dalam sebuah ungkapan yang dinisbahkan kepada HRS, tantangan dakwah pemikiran itu tergambarkan lugas dan gamblang. “Dalam perang fisik, menang dan kalah pada hakekatnya adalah kemenangan bagi Mujahid. Namun dalam perang pemikiran, menang adalah harga mutlak. Karena jika kalah, aqidahlah taruhannya.” Dalam Islam, aqidah merupakan identitas terdalam dan final. Tanpa aqidah, tidak ada Islam bagi seseorang. Wallahu a’la wa a’lam. []

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: