DPW DKI Jakarta dan Depok

Ustadz Nur, Dai WI Koltim yang Diniatkan Jadi Dai oleh Ibunda Sejak Lahir

0 37

Nama saya Nurlandab. Biasa dipanggil Nur atau Nunu. Teman-teman saat kecil menyapa dengan panggilan Nur supaya mudah penyebutannya. Kalau Nunu panggilan kecil dari rumah. Waktu kecil saat dipanggil oleh kakak dan orangtua dengan panggilan Nur atau Landa saya menyahut dan sebut kata Nyu, nyu. Jadi sejak saat itu dipanggil Nunu.

Saya lahir di Ternate, 15 Juni 1995. Ceritanya waktu itu bapak jadi karyawan di perusahaan Aneka Tambang (ANTAM) Pomalaa Sulawesi Tenggara. Tapi setelah dibuka tambang baru saat itu beliau dimutasi ke pulau GB, pulau terpencil di kabupaten Halmahera Tengah. Pulau ini sekira sejam perjalanan laut ke Raja Ampat Papua.

Waktu itu tidak ada rumah sakit di Pulau GB. Jadi kalau ada yang mau melahirkan atau operasi dilarikan ke rumah sakit yang ada di Provinsi di Maluku Utara tepatnya di ibukota Ternate.

Anak ke-5 dari 5 bersaudara. Awalnya ketika mama sudah dibawa ke RS untuk melahirkan kata dokter sadah meninggal bayi di kandungan karena sudah tidak dirasa detak jantung nya sama dokter waktu diperiksa karena memang sudah telat keluar. Tapi mama waktu itu bersikeras kalau bayinya (ana) masih ada. Karena beliau masih dia rasa bergerak walaupun gerakannya tdk kuat.
Dan katanya mama sempat bernadzar kalau bayi yang ke-5 lahir diharapkan jadi ustadz nanti kalau besar supaya ada yang bisa ingatkan saudara-saudaranya nanti kalau salah.

Kku orgtua,bpk kerjanya sebagai karyawan PT ANTAM semenjak Tahun 80-an sampai 2011.klu MM ibu rumah tangga biasa jual es tontong(es krim)dan nasi bungkus waktu kecil setelah sdh lanjut usia.

Alhamdulillah sudah menikah sejak akhir tahun 2017. Dulu sebleum menikah sempat mengajukan proposal pernikahan di website.domain Qatar berharap ada bantuan nikah pada saat itu karena waktu itu masih kuliah semester 6 dan belum ada pekerjaan tetap. Satu-satunya pekerjaan hanya mengajar privat mengaji dari rumah ke rumah. beberapa bulan kemudian dihubungi sampai dijanjikan bantuan sebesar 50 juta untuk biaya pernikahan. Selain itu ada pula tambahan modal usaha setelah pernikahan yang nilainya hampir mencapai 100 jita kalau digabungkan semuany. Saya diminta membuat proposal untuk pengajuan dan ada biaya adminnya. Tanpa saya sadari sudah mengeluarkan biaya 5 juta rupiah ditambah dengan dipinjam dari teman.

Terakhir dijanji bahwa besok insya Allah dilakukan pencairan uang bantuan tersebut. Tapi qaddarallah keesokan harinya saya hubungi nomor kontak WA nya tidak ada yang aktif. Bahkan WA juga diblokir. Saat itusaya sudah hampir putus asa karena ana sudah sampaikan ke orangtua kalau ada bantuan pernikahan dari Qatar. Sampai orangtua setuju untuk menikah kan ana, padahal keinginan orangtua pada saat itu nanti setelah selesai kuliah dan dapat pekerjaan baru nikah.

Setelah itu ana tadak tau mau berbuat apa lagi. karena sudah tidak ada harapan akan ada bantuan untuk pernikahan. Tapi alhamdulillah semenjak kejadian itu ana langsung semangat bekerja sambil kuliah dengan tujuan utama melunasi hutang kepada teman, sekaligus menabung untuk menikah.

Alhamdulillah waktu itu ana ikut kerja di property syariah dengan penghasilan berupa fee yang didapat dari sekali jualan lumayan besar bagi saya, Rp 5.000.000. karena selama kuliah tidak pernah memegang uang sampai jutaan. Paling banyak 500 sampai 800.000-an.

Alhamdulillah beberapa hari menjual ternyata ada yang laku dan akhirnya hutang bisa dilunasi dan bisa juga terkumpul uang untuk nikah sekitar 20-an juta waktu itu.

Saya benar-benar belajar dari peristiwa ini, ketika kita bersungguh-sungguh ingin menikah harus kuatkan tekad dan mental. Jangan hanya berharap bantuan dari orang lain. Kuncinya perbanyak doa dan usaha, insya Allah Allah akan beri jalan-jalan yang tidak disangka-sangka.

 

Ketika di SD- SMA aktif di kegiatan Pramuka dan OSIS. Bahkan sejak SMP sampai SMA selalu menjabat sebagai OSIS. Pernah mewakili Kabupaten Kolaka sebagai peserta PASKIBRAKA Nasional di Jakarta. Tapi Qaddarallah ada masalah tidak sampai ke tingkat Nasional. Saya hanya sampai di tingkat Provinsi Sultra sebagai anggota pasukan 8 pengibar bendera.

Dulu semasa kecil pernah bercita-cita jadi dokter karena suka menolong orang sakit. Sehingga ketika tamat SMA mencoba pendaftaran beasiswa melalui jalur bidik misi di fakultas Kedokteran. Alhamdulillah diterima, namun setelah berfikir panjang akhirnya saya putuskan untuk kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar.

Waktu itu orang tua melarang kuliah di STIBA karena diragukan, setelah selesai STIBA mau jadi apa. Apalagi waktu itu STIBA belum mengeluarkan Ijazah S1 kerena belum mengantongi izin operasiional dan akreditasi. Tapi kami berusaha meyakinkan kedua orang tua, tujuan kami kuliah di STIBA untuk menuntut ilmu Agama. Adapun untuk ijazah insya Allah akan menyusul belakangan. Walaupun agak berat akhirnya orangtua setuju saya kuliah di STIBA. Alhamdulillah.
Selain itu ada beberapa oknum yang menghasut saya untuk tidak kuliah di STIBA. Alasannya STIBA merupakan gudang teroris di Makassar. Tapi alhamdulillah kami langsung bertanya kepada Ustadz Fakhrudiin dan ustadz lain yang ada di DPD WI Kolaka. Mereka menyarankan, “Masuk saja dulu! kalau antum dapatkan hal begitu di STIBA langsung keluar saja.”

Alhamdulillah setelah masuk STIBA ternyata tidak ada satupun hal-hal jelek yang sering disampaikan sama oknum tersebtu kami temukan di STIBA. Sejak masuk tahun 2013 sampai selesai tahun 2018 yang lalu tidak menemukan apa yang dituduhkan tersebut.

Awal Mula Kenal Dunia Dakwah
Awal mula kenal dunia dakwah secara langsung ketika mulai bertugas di Kolaka Timur (Koltim) Sulawesi Tenggra akhir tahun 201. Alhamdulillah ada perasaan senang tapi bercampur keraguan, apa bisa nanti bertahan di tempat dakwah ke depannya atau tidak.

Awalnya orangtua meminta balik ke Kolaka, supaya bisa dekat dengan orgtua. karena usia bapak sudah 60-an ke atas hampir 70. Harapannya supaya ada yang menemani beliau di rumah.

Tapi setelah SK penugasan keluar diamanahkan untuk bertugas di Koltim. Rencana awal akan ditugaskan di Wakatobi, tapi DPD WI di sana membutuhkan dai yang sudah berkeluarga dan bisa sama-sama membina. Tapi qaddarullah da’i dari Wakatobi yang sedianya akan ditempatkan di Koltim tidak bisa meninggalkan kampung halamannya karena satu dan lain hal. Akhirnya kami ditempatkan di Koltim.
Awalnya istri belum siap untuk dikirim bertugas di Koltim, karena baru melahirkan. Selain itu daerah yang ditempati belum pernah dikunjungi. Tapi setelah diberikan penguatan Alhamdulillah beliau siap untuk ikut bersama ke tempat tugas dakwah.
Alhamdulillah respon masyarakat terhadap dakwah cukup baik. Mereka sangat senang ketika mengetahui, masjid Dzu Nurain (kini markaz DPD WI Koltim) yang sudah lama dibangun dan belum digunakan akhirnya bisa digunakan. Aktivitas perdana di masjid tersebut dimulai pada bulan Ramadhan tahun 2019. Masyarakat berbondong-bondong melakukan kerja bakti pembersihan halaman masjid. Rerumputanyang mulai tumbuh di halaman masjid dibersihan. Beberapa pohon besar sekitar masjid ditebang. Warga sekitar masjid juga berinisiatif membuat tempat wudhu darurat untuk digunakan saat bulan Ramadhan.

Aktivitas awal ketika bertugas di Koltim pembinaan pengurus melalui halaqah tarbiyah, pengajaran Al-Qur’an melalui kelas Dirosa untuk orang dewasa dan TK-TPA untuk anak-anak. Semua kegiatan dipusatkan di Masjid Dzu nurain. Alhamdulillah waktu awal buka TK-TPA peminatnya cukup banyak, sampai 80-an anak. Namun seiring perjalanan waktu terjadi seleksi alam karena berbagai sebab.
Yang paling berkesan ketika berdakwah di Koltim ketika menyaksikan militansi para pengurus DPD dalam pergerakan dakwah. Terutama saat awal-awal mendirikan bangunan sekolah TKIT. Dengan dana seadanya yang merupakan hasil dari infak bulanan dan penggelangan dana ke masyarakat mereka tetap semangat membangun.

Awalnya ada beberapa pihak yang ragu untuk mendirikan Yayasan Pendidikan di Koltim. Mungkin karena jumlah kader yang sedikit dan masing-masing memiliki kesibukan. Tapi alhamdulillah setelah ada penguatan dari DPW WI Sultra kita berjalan pelan-pelan hingga akhirnya dibuat bangunan sekolah dan sekretariat DPD WI Koltim .

Walau demikian tantangan dakwah selalu menyertai. Pada masa awal Masjid Dzu Nurain mulai diaktifkan ternyata ada pihak yang mencurigai selalu memata-matai. Hal ini berlangsung selama beberapa bulan karena mengira masjid DPD WI Koltim sebagai pergerakan terorisme. Tapi alhamdulillah setelah akrab dan saling tukar pikiran akhirnya beliau mengakui kalau selama ini salah paham. []

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: