DPW DKI Jakarta dan Depok

Walau Mentari di Tangan Kananku, Rembulan di Tangan Kiriku

0 279

WALAU MENTARI DI TANGAN KANANKU, REMBULAN DI TANGAN KIRIKU
(Majelis Tadarus Sirah Part 107)

Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Ajaran baru itu terus berkembang. Tidak sebagaimana yang mereka sangka. Dulu awalnya mereka kira agama Muhammad ‘alaihis shalatu was salam itu sama seperti para pemeluk ‘hanifiyyah’ yang cenderung ‘adem ayem’.
.
Berbeda dengan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tak terbendung. Makkah berpijar oleh api kemarahan. Para elit itu merasa akan ada banyak kepentingan mereka yang terkorbankan.
.
Berbagai upaya sudah mereka lakukan, namun rupanya belum cukup. Mereka henti-henti membahasnya hingga sampai pada satu keputusan; hentikan pemuda ini melalui Abu Thalib, pamannya.

Mengapa harus melalui Abu Thalib?
.
Karena di Makkah, mereka tidak berada di bawah kekuasaan satu raja. Tidak sebagaimana bangsa Arab yang tingal di Syam, Iraq, Yaman, dll. Yang berlaku di Makah adalah sistem kekabilahan.
.
Tidak ada raja yang berkuasa mutlak. Kabilah pun seperti itu, tidak ada kabilah yang betul-betul berkuasa dan menguasai sistem pemerintahan. Antar kabilah relatif setara dan masing-masng punya kewenangan khusus yang sifatnya terbatas.
.
Jika ada yang menggangu anggota keluarga dari kabilah tertentu, maka kabilah itu akan bangkit membelanya. Apapun yang terjadi. Kalau perlu sampai berperang, mereka akan lakukan. Bagi mereka, harga diri di atas segala-galanya.
.
Inilah yang mereka khawatirkan. Maka dari itu, sampai di titik itu mereka tidak berani menciduk Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib_alaihis shalatu was salam. Mereka tahu kabilahnya tidak akan tinggal diam.

Beberapa perwakilan mendatangi Abu Thalib, sang paman. Sosok yang sangat dihormati, sesepuh senior, dan semacam pemimpin spiritual, itulah Abu Thalib di mata mereka.
.
Mereka melobi Abu Thalib agar bersedia menghentikan keponakannya. Hal yang sama juga sudah pernah dilakukan oleh Abu Lahab, saudara kandung Abu Thalib sendiri. Waktu itu Abu Lahab gagal, dan kini mereka ingin mencobanya sekali lagi.
.
Mereka yang datang adalah representasi kabilah-kabilah yang ada di Makkah. Mereka ingin mengesankan bahwa Muhammad_’alaihis shalatu was salam_ditolak oleh keseluruhan penduduk Makkah.

“Wahai Abu Thalib, keponakanmu itu semakin meresahkan. Dia cela tuhan-tuhan kita. Dia jelek-jelekkan agama nenek moyang kita. Dia bodoh-bodohkan para tetua kita. Dia tuduh sesat nenek moyang kita..”
.
“Abu Thalib.., engkau punya dua pilihan. Engkau sendiri yang akan menghentikannya, atau engkau serahkan kepada kami untuk menindaknya.”
.
“..toh kami juga tahu, engkau masih berada di atas agama nenek moyang kita. Engkau tidak menjadi pengikut agama keponakanmu itu. Maka.., kami percayakan urusan ini kepadamu..”
.
Mendengar semua yang disampaikan itu, Abu Thalib diam. Dia dengarkan dengan seksama, tidak dibantahnya.
.
Dia terima pengaduan mereka, lalu dijawabnya dengan penuh kearifan.
Permintaan mereka ditolak baik-baik oleh Abu Thalib. Merekapun pamit dari rumahnya dengan tangan hampa. Mereka gagal meyakinkan Abu Thalib.

Mentari tetap bersinar dan angin tetap berhembus. Makkah masih berdenyut seperti sedia kala. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun terus berdakwah. Hanya saja, kali ini suhunya agak sedikit ‘panas’.
.
Satu persatu telinga dan hati mereka disapa lembutnya kalam ilahi. Namun, sebagian beriman dan sebagian lagi mendustakan.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih menjadi perbincangan. Para elit itu sepeti kebakaran jenggot. Satu sama lain saling memprovokasi dan akhirnya mereka tidak tahan.
.
Mereka datangi kembali Abu Thalib.

“Wahai Abu Thalib, engkau ini kami tuakan, kami hormati, kami segani. Kami sudah memintamu untuk menghentikan, namun engkau tetap mendiamkannya. Demi Allah.. sudah habis kesabaran kami..”
.
“Kami tidak bisa bersabar lebih lama lagi melihat dia mencela para pendahulu, membodoh-bodohkan para tetua, dan mencela tuhan-tuhan kita..”
.
“Engkaulah yang bisa mencegahnya.. Jika tidak..,” ancam mereka, “..kami akan memusuhinya, bukan hanya dia tapi juga engkau, sampai salah satu di antara kita akan binasa..”
.
Kali ini ancaman mereka lebih serius. Mereka akan memposisikan Abu Thalib sama seperti kaum muslimin. Meskipun Abu Thalib tidak masuk Islam.

Abu Thalib merasa persoalan kian membesar. Didatanginya sang keponakan yang teramat disayanginya sejak dalam buaian.
.
“Wahai keponakanku.. Sesungguhnya kaummu telah mendatangiku. Mereka mengatakan begini dan begitu.. Mereka mengancamku dan juga dirimu. Janganlah engkau bebani aku ini dengan perkara yang tak kuasa aku memikulnya..”
.
Dari perkataan Abu Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyimpulkan. Beliau menyangka bahwa sang paman tidak akan melindunginya lagi. Beliau mengira sang paman akan menyerahkan beliau kepada mereka. Sang paman tidak akan pasang badan lagi.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab apa yang baru saja diutarakan sang paman. Bukan sekedar jawaban, ini penegasan.
.
“Wahai paman.. Demi Allah! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku. Lalu rembulan pula di tangan kiriku.., agar aku meningalkan perkara ini.. Aku tidak akan meletakkan amanah ini sedikitpun. Sampai tiba saatnya Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenanya..”
.
Bulir-bulir air mata menetes di pipi beliau..
Wajah bercahaya, yang lebih indah dari purnama itu, basah oleh air mata.
Beliau pun bangkit, lalu beranjak.
.
Baru beberapa langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling, dipanggillah oleh sang paman, “Wahai putra saudaraku (wahai keponakanku)..”
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali hadapkan wajah kepada sang paman.
.
“Lanjutkanlah..” kata Abu Thalib menegaskan, “..sampaikan semua yang ingin engkau katakan. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu kepada mereka. Apapun yang terjadi..”
.
.
Referensi:
– Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam
– Ar Rahiqul Makhtum
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makkah
.
.
✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: