DPW DKI Jakarta dan Depok

Waspada Neo Abu Jahal

Perang Badar Abu Jahal
0 121

Hari itu sebenarnya suara musyrikin Quraisy terbelah. Sebagian kecil pro perang. Sebagian kecil yang lain dengan tegas menolak perang. Dan diantara kedua kubu itu terdapat “undecided voters” atau “swing voters” yang prosentasenya tidak sedikit.

Diantara yang tegas menolak peperangan adalah Bani Zuhrah dan beberapa kabilah yang lain. Nama yang menonjol salah satunya, Hakim bin Hizam, keponakan Khadijah radhiyallahu anha. Ada juga Al Akhnas bin Syuraiq, salah satu “musyrikin garis keras”.

Kubu ini berargumen, tidak perlu perang karena kafilah dagang Abu Sufyan telah selamat. Kafilah yang membawa saham-saham para investor itu berhasil lolos sampai ke Makkah.

Kafilah telah selamat. Apa lagi yang diinginkan dari perang? Perang hanya akan memicu dendam berkepanjangan. Karena disana ada ayah, ada anak, ada sepupu, ada paman, dan sekian banyak kerabat mereka sendiri dari Makkah.

Orang-orang ini yang tidak setuju dengan perang ini, masih setia kepada akal sehat. Mereka masih waras. Maka mereka memutuskan untuk segera putar balik, kembali ke Makkah.

Sementara itu, sebagian tokoh musyrikin yang lain nampaknya tidak berani tegas. Hati kecil mereka menolak putusan Abu Jahal, namun rasa sungkan mengalahkan akal sehatnya.

‘Utbah bin Rabi’ah contohnya. Pembesar Mekkah yang juga tuan tanah di Tha’if ini coba menyanggah Abu Jahal. Dia utus Hakim bin Hizam untuk adu gagasan dengan Abu Jahal.

Jelas, ‘Utbah punya argumen untuk menolak perang. Jelas juga, Abu Jahal tidak mampu menyanggah akal sehat ‘Utbah.

Menurut ‘Utbah, ngapain perang wong kafilah selamat? Yang akan mereka hadapi adalah sanak saudara dan handai taulan dari Makkah.

Akan ada ayah saling bunuh dengan anaknya, paman dengan keponakan, kakak dengan adiknya, cucu dengan kakek, dst.

Namun, mungkin begitulah tabiat orang-orang dungu. Jika dia tidak bisa beradu gagasan, dia akan serang pribadinya. Begitu juga Abu Jahal, dia sebut ‘Utbah sebagai pengecut dengan kata-kata yang tidak pantas, “Yaa mushaffar itfihi”. Abu Jahal menuduh ‘Utbah takut, karena disana ada anak kandungnya.

Untuk mengembalikan kesolidan, jelas susah bagi Abu Jahal. Mereka terlanjur berpecah. Mereka terlanjur tidak sehati.

Jalan satu-satunya bagi Abu Jahal, hanya PROVOKASI. Bukan narasi penyampaian visi. Abu Jahal tidak punya visi.

Pantik fanatismenya. Pantik dendam atas terbunuhnya Ibnu Hadhrami. Yang penting perang, yang penting kita menang. Itu prinsip Abu Jahal.

“Demi Allah, kita tidak akan kembali sampai kita tiba di Badar. Kita akan tinggal di sana tiga hari, menyembelih onta, pesta makan, minum khamr, mendengarkan dendang lagu biduanita sampai masyarakat jazirah Arab mendengar nama kita dan semakin segan kepada kita…”

Itulah provokasi Abu Jahal yang nir-visi. Hanya modal gengsi. Cita-cita yang rendah sekali.

Abu Jahal Masa Kini
Di setiap zaman akan tetap ada Abu Jahal-Abu Jahal seperti ini. Dia berambisi, tanpa punya visi.

Bagi kita sebagai umat, mari waspada. Jangan mudah terprovokasi dengan orasi. Hati-hati, ada para pemimpin yang tidak punya visi, hanya bermodal diksi. Ada juga yang cuma bisa jualan janji.

Mari saling mengingatkan. Karena kita sedang dan akan terus mencari pemimpin untuk umat dan bangsa ini.

Murtadha Ibawi

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: