DPW DKI Jakarta dan Depok

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf (1)

0 184

 

Abu Hurirah radhiyallahu ‘anhu berkata; “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf setiap Ramadhan pada sepuluh malam terakhir, dan pada tahun beliau wafat beliau beri’tikaf dua puluh hari”. (HR.Bukhari).

Makna I’tikaf

Secara bahasa I’tikaf bermakna: berdiam di suatu tempat untuk melakukan sesuatu pekerjaan; yang baik maupun yang buruk.

Adapun pengertian i’tikaf menurut istilah adalah berdiam di masjid dalam rangka ibadah dari orang yang tertentu, dengan sifat atau cara yang tertentu dan pada waktu yang tertentu (Fathul Bari 4 : 344)

Dalil Disyariatkannya I’tikaf

Firman Allah Ta’ala;

 “Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam Mesjid”. (QS. Al Baqarah : 187)

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha  berkata:

 “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  beri’tikaf sepuluh akhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah ‘azza wa jalla”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hukum I’tikaf

Ulama sepakat bahwa hukum asal dari i’tikaf adalah sunnah, bahkan Imam Ibnu ‘Arabi Al Maliki dan Ibnu Baththal rahimahumallah  memasukkannya ke dalam sunnah muakkadah (yang dikuatkan) karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya selama hidupnya.

Namun hukum asal ini berubah menjadi wajib jika seseorang bernazar untuk melakukannya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau pernah bernazar untuk beri’tikaf satu malam di masjid Haram, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tunaikan nazarmu itu”. HR. Bukhari dan Muslim

Hukum i’tikaf ini berlaku baik untuk muslim ataupun muslimah sebagaimana yang kabarkan oleh Shafiyyah radhiyallahu ‘anhu ketika beliau menziarahi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  pada saat  i’tikaf:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (beri’tikaf) di masjid dan di sisinya terdapat istri-istri beliau (sedang beri’tikaf pula)…”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Al Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: “Perempuan tidak boleh beri’tikaf hingga dia meminta izin kepada suaminya dan jika perempuan itu beri’tikaf tanpa izin maka suaminya boleh mengeluarkannya (dari i’tikaf). Dan jika seorang suami telah mengizinkan (istrinya) lalu mau mencabut izinnya maka hal itu dibolehkan baginya”.  (Lihat Fathul Bari 4 : 351)

Keutamaan I’Tikaf

I’tikaf mempunyai beberapa keutamaan yang tidak terdapat pada ibadah lainnya, diantaranya:

  1. I’tikaf merupakan wasilah (cara) yang digunakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendapatkan malam Lailatul Qadr.
  2. Orang yang melakukan i’tikaf akan mudah mendirikan shalat fardhu secara kontinu dan berjamaah. Bahkan dengan i’tikaf seseorang selalu berpeluang besar mendapatkan shaf pertama pada shalat berjama’ah.
  3. I’tikaf juga membiasakan jiwa untuk senang berlama-lama tinggal dalam Masjid, dan menjadikan hatinya terpaut pada masjid
  4. I’tikaf akan menjaga puasa seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa. Dia juga merupakan sarana untuk menjaga mata dan telinga dari hal-hal yang diharamkan
  5. Dengan I’tikaf membiasakan hidup sederhana, zuhud dan tidak tamak terhadap dunia yang sering membuat kebanyakan manusia tenggelam dalam kenikmatannya.

Waktu I’tikaf

I’tikaf boleh dikerjakan kapan saja, namun lebih ditekankan pada bulan Ramadhan, karena itulah yang sering dilakukan oleh Rasulullah . shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dan lebih utama dikerjakan pada sepuluh akhir Ramadhan untuk mendapatkan Lailatul Qadr sebagaimana yang ditunjukkan hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu.

I’tikaf yang wajib harus dikerjakan sesuai jumlah hari yang telah dinazarkan, sedangkan i’tikaf yang sunnah tidak ada batasan maksimalnya dan hal ini disepakati oleh keempat ulama madzhab, dan jumhur ulama berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal ketika beri’tikaf hal ini berdasarkan atsar dari Umar radhiyallahu ‘anhu dimana beliau mengabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang nazar beliau untuk beri’tikaf satu malam  di masjid Haram, lalu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya untuk menunaikan nazarnya.

Imam rahimahullah mengatakan: “Boleh seseorang beri’tikaf sesaat dan dalam waktu yang singkat…”.  (Al Minhaj 8 : 307).

Kapan Mulai Masuk I’tikaf?     

Ulama berbeda pendapat tentang kapan awal masuknya seseorang yang mau beri’tikaf ke dalam masjid. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa orang yang memulai i’tikaf hendaknya memasuki masjid sebelum matahari terbenam. Pendapat yang kedua mengatakan, bahwa i’tikaf baru dimulai sesudah shalat shubuh, berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

JikA Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian masuk ke mu’takaf (tempat i’tikaf) nya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendapat ini dipegangi oleh Al Auza’iy, Al Laits dan Ats Tsauri serta dipilih oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dan Al Imam Ash Shon’ani rahimahumullah.

Dari dua pendapat yang ada maka yang paling dekat dengan dalil adalah pendapat yang kedua, yaitu masuk sesudah shalat shubuh, namun pendapat yang pertama lebih berhati-hati. Wallahu A’lam. Bersambung insya Allah.     [sym].

Artikel: wahdag.or.id

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: