DPW DKI Jakarta dan Depok

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [2]: Rukun dan Syarat I’tikaf

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallm ber'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan" (HR. Bukhari & Muslim) .
0 203
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallm ber’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadnan” (HR. Bukhari & Muslim) .
 Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Fiqh I’tikaf [2]: Rukun dan Syarat I’tikaf

Syarat I’tikaf

Orang yang beri’tikaf memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhinya yaitu: Seorang muslim, mumayyiz (mampu membedakan yang baik dan buruk), berakal, dan suci dari janabat, haidh, serta nifas.

Rukun I’tikaf

  1. Niat, karena tidak sah suatu amalan melainkan dengan niat.
  2. Tempatnya harus di Masjid. Dalilnya firman Allah Subhanahu Wa Ta’alayang artinya:

Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid” (QS. Al Baqarah : 187)

Keharusan beri’tikaf di masjid ini berlaku pula untuk wanita, dalam hal ini merupakan pendapat Jumhur Ulama bahwa wanita tidak sah beri’tikaf di masjid rumahnya karena tempat itu tidaklah dikatakan masjid, lagi pula keterangan yang shahih menerangkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan i’tikaf di masjid Nabawi.

Al Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah-  berkata tentang i’tikafnya istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  di masjid : “Hal ini menunjukkan disyariatkannya i’tikaf di masjid, karena seandainya tidak, tentu para istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  akan beri’tikaf di rumah-rumah mereka karena mereka telah diperintahkan untuk berlindung atau berdiam di rumah”. (Fathul Bari 4 : 352)

Syarat Masjid Yang Ditempati I’tikaf

Para ulama telah berikhtilaf tentang syarat masjid yang sah untuk di gunakan i’tikaf namun diantara pendapat-pendapat yang ada maka pendapat yang pertengahan dan paling dekat dengan kebenaran adalah I’tikaf harus dilaksanakan di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah padanya karena shalat berjama’ah bagi laki-laki hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan atsar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yaitu:

Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah”. (HR. Ad Daraqutni dan Al Baihaqi)

Pendapat ini dipegangi pengikut madzhab Abu Hanifah dan Imam Ahmad serta perkataan Hasan Al Bashri dan ‘Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:

Disyaratkannya i’tikaf di masjid yang dilaksanakan shalat jama’ah, karena shalat jama’ah itu wajib, dan ketika seseorang beri’tikaf di masjid yang tidak dilaksanakan shalat jama’ah akan mengakibatkan salah satu dari dua hal: meninggalkan shalat jama’ah yang merupakan kewajiban, yang kedua keluar untuk shalat di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah dan hal ini akan sering berulang padahal masih mungkin untuk menghindarinya, dan sering keluar dari tempat i’tikaf itu bertentangan dengan maksud/tujuan i’tikaf …”. (Al Mughni 4 : 461)

Jika seseorang i’tikaf di masjid jama’ah yang tidak dilaksanakan shalat Jum’at maka pada hari Jumat wajib atasnya untuk keluar shalat Jum’at dan i’tikafnya tidak batal karena dia keluar disebabkan udzur yang dibenarkan syariat dan hal tersebut hanya sekali dalam sepekan, dan ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Said bin Jubair, Hasan Al Bashri, Ibrahim An Nakhaaiy, Imam Ahmad, Ibnul Mundzir, Dawud Azh Zhohiri, Ibnu Qudamah, dan lain-lain. [sym]

Artikel: wahdah.or.id

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: